Aku mengenalnya saat hari pertama masuk kelas VIID. Ia orang pertama yang kukenal di kelas itu. Aku tidak memiliki pilihan dalam berteman. Lagipula tak ada seorang pun yang kukenal. Jadi, ketika seseorang membantuku mencari tempat duduk, dengan senang hati aku menerimanya.
Dia mengajakku berbicara seolah aku teman lamanya, sementara aku mencari tahu siapa dia. Dia mengajakku bercanda, tapi aku hanya tertawa demi kesopanan.
Dia mengajakku pulang bersama dan aku tidak menolak. Rumahnya searah denganku. Ia mengaku biasa melihatku dan kakakku bersepeda melintasi rumahnya saat pagi, saat kami berangkat sekolah. Itulah alasannya sok akrab denganku. Dan jadilah kami sepasang kawan yang tidak dikenal di sekolah. Sepasang anak dari seberang kali (baca: sungai) yang dekil dan tidak rupawan. Tidak tinggi dan tidak kaya. Sepasang anak biasa-biasa saja.
Hari-hari selanjutnya kami selalu pulang bersama, meski nyaris tak pernah berangkat bersama. Ia senang mengolok-olokku karena berangkat sekolah terlalu 'on time'. Untuk mencapai sekolah, aku harus menyeberangi sebuah sungai yang jembatannya roboh diterjang sampah saat hujan deras mengguyur beberapa bulan sebelum aku masuk SMP. Selama pembangunan jembatan baru, orang-orang menggunakan jasa penyeberangan dengan perahu, termasuk puluhan siswa sekolah (rasanya seperti anak suku pedalaman).
Saat siang, air sungai surut jauh ke bawah sehingga cukup sulit untuk menurunkan dan mengangkat sepeda. Riyan suka mengataiku karena sering hampir tidak kuat mendorong sepedaku naik dari perahu, tapi kadang-kadang ia berbaik-hati membantuku. Di kelas, ia berteman akrab dengan Arif yang duduk tepat di depannya. Aku senang mendengarkan obrolan mereka yang sering tidak karu-karuan; tentang siswa perempuan di kelas kami yang disukai Arif, tips-tips dari Riyan yang tidak bermutu, kisah-kisah hantu, dan biasanya aku menyela dengan cerita MotoGP dan Detective Conan. Untuk yang terakhir, pembicaraan akan dikuasai oleh aku dan Arif, sementara Riyan dengan malas menjadi pendengar.
Riyan mempunyai kebiasaan yang tidak kusuka dan saat aku tegur ia malah dengan sengaja melakukannya berulang-ulang. Ia tidak menyukai apa yang aku suka dan aku tidak menyukai apa yang dia suka. Kami sering ribut saat mengobrol. Riyan suka menarik dasi dan kerah bajuku--aku selalu menyetrika dasiku dan mengenakannya dengan hati-hati di pagi hari, tapi ternyata hanya untuk dicengkeram Riyan di sekolah. Aku sering sangat marah padanya, tapi ia tidak sadar dan terus mengajakku bercanda. Aku mengatakan pada Mamaku bahwa aku ingin berhenti berteman dengan Riyan dan terus membanding-bandingkannya dengan teman-teman SD ku. Mamaku menasihati sebagaimana seharusnya seorang ibu. Aku tidak bisa lepas dari Riyan karena memang aku tidak punya teman akrab lain di kelas. Aku sering melihat-lihat teman sekelasku dan berdoa agar beberapa orang yang kurasa akan menjadi teman yang menyenangkan mau berteman denganku.
Pada suatu siang, hujan deras turun, kami (aku dan teman-teman kelasku) keluar untuk bermain air dan di sanalah aku menghabiskan waktu bermain dengan Santi dan Anggi. Sejak hari itu aku memutuskan untuk berteman dekat dengan Santi. Sejak hari itu aku memiliki kenalan baru; teman-teman Santi dari kelas lain. Sejak hari itu aku memiliki beberapa teman untuk pulang bersama. Sejak hari itu Riyan sering menjadi pendengar saat aku asyik mengobrol bersama teman-teman yang lain. Aku tahu perlahan aku meninggalkan Riyan. Kurasa ia juga menyadari hal itu.
Di akhir kelas tujuh Riyan jatuh saat pelajaran pendidikan jasmani. Tangan kanannya patah. Selama beberapa hari ia tidak berangkat. Aku datang menjenguknya. Ibunya sangat senang dan memintaku untuk membantu Riyan terkait materi pelajaran yang Riyan tinggalkan selama sakit. Aku tidak keberatan. Beberapa hari kemudian Riyan berangkat dengan tangan kanan digendong. Ia berangkat diantar kakaknya dan hanya duduk mendengarkan saat di kelas. Sesekali ia menulis dengan tangan kiri. Aku merasa iba jadi aku membantunya membuat beberapa catatan. Tapi aku melihat ini sebagai kesempatan baik untuk balas dendam. Aku mengolok-oloknya karena tulisan tangan kirinya yang sangat jelek. Kadang aku juga membercandainya dengan mengingatkannya pada 'adegan lucu' saat ia jatuh yang membuat tangannya patah.
Cukup lama sampai Riyan melepas perbannya dan mulai menggunakan tangan kanannya kembali. Saat itulah Riyan mengajakku mampir ke rumahnya setelah pulang sekolah. Ia mengatakan bahwa ibunya yang menyuruhku mampir. Aku bertanya bolehkah mengajak serta Santi, Riyan bilang tentu saja boleh. Di rumahnya, ibu Riyan menyambut kami dengan ramah, seperti selalu setiap aku datang. Ternyata hari itu Ibu Riyan memasak istimewa untuk syukuran kesembuhan Riyan. Ibu Riyan ingin aku mencicipinya sebelum makanan itu dibagi-bagikan ke tetangga-tetangganya. Memintaku mencicipi masakan sebelum diangkat dari wajan. Beliau mengajakku mengobrol tentang banyak hal dan membantuku 'mengata-ngatai' Riyan, seperti kebanyakan ibu menjelek-jelekkan anaknya sebagai ungkapan sayang, bahwa mereka mengenal sangat baik anak-anak mereka. Seluruh keluarga Riyan bersikap hangat. Saat hendak pulang beliau membekaliku dengan tiga bungkus nasi; untuk dua saudaraku di rumah dan jika aku ingin makan lagi nanti. Beliau bahkan tahu jumlah saudaraku dan nama mereka. Pasti Riyan yang memberitahunya.
Sepanjang perjalanan pulang aku berpikir tentang betapa jahatnya aku selama ini. Ibu Riyan pasti berpikir betapa aku teman anaknya yang baik. Dan apakah yang Riyan pikirkan setelah banyak pengacuhan yang aku lakukan padanya? Bahkan selama tangannya belum pulih aku hanya membantu karena ia tidak meminta bantuan siapapun dan aku merasa iba. Aku sangat tahu kedekatan Riyan dengan ibunya sehingga aku penasaran penggambaran apa yang ia ceritakan pada ibunya tentang diriku hingga beliau repot-repot menjadikanku orang pertama yang menikmati masakannya itu. Santi betrakta padaku betapa baiknya kelurga Riyan dan bertanya apakah aku sangat dekat dengan keluarganya. Aku tidak tahu.
Aku menceritakan pada mamaku tentang pengalamanku hari itu. Mama menasihatiku, menyadarkanku tentang bagaimana peliknya sebuah hati. Tidak pernah kita tahu apa yang ada dalam hati seseorang. Kadang seseorang bersikap menjengkelkan, tapi dalam hatinya tak bermaksud membuat jengkel. Ia hanya tidak tahu apa yang membuat orang yang dihadapinya merasa nyaman.
Hari itu aku memutuskan untuk 'menerima kembali' Riyan.
Ketika nail ke kelas delapan, sekolah mengundi ulang pembagian kelas. Aku tetap satu kelas dengan Santi, terapi berbeda kelas dengan Riyan. Kelasku dan kelas Riyan terletak di sisi yang berlainan dari sekolah dan berjauhan. Aku semakin dekat dengan Santi dan mulai mencoba berorganisasi di OSIS, sementara Riyan tetaplah Riyan yang dulu. Kadang aku melihatnya pulang seorang diri sementara aku masih menetap di sekolah bersama anak-anak OSIS.
Ketika usiaku empatbelas tahun, Santi, Anggi dan Riyan menyiapkan hadiah ulangtahun untukku. Sementara mereka bersiap dengan itu, aku sibuk dengan Latihan Dasar Kepemimpinan di OSIS dan sebuah lomba di SMA Satu, membuat mereka menyimpan hadiah itu dua hari lebih lama dari tanggal ulangtahunku. Aku tahu uang saku Riyan dan aku pikir hadiahnya sedikit terlalu mahal. Untuk kesekian kali aku merasa Riyan berbuat terlalu banyak untukku.
Tapi semua itu tak bisa menjadikan kami sedekat saat kelas VII. Aku tetap berteman dekat dengan Santi, sementara Riyan kulihat memiliki beberapa teman baru. Kadang aku berpikir apakah Riyan sudah menggantikanku dengan yang lain? Aku segera sadar betapa egoisnya aku. Ketika pulang sekolah, terkadang aku bertemu Ibu atau Ayah atau Kakak atau Adik atau keponakan Riyan, mereka menawariku mampir tapi aku selalu membalas dengan senyuman saja.
Ketik kelas sembilan, kami kembali ke pembagian kelas saat kelas tujuh. Kini aku satu kelas lagi dengan Riyan. Aku mulai kembali dekat dengannya, tapi tak pernah bisa sedekat saat kelas tujuh. Banyak hal yang aku merasa lebih nyaman berbagi cerita dengan Santi dan bukan dengan Riyan. Aku tidak tahu apakah dia merasakan perbedaan itu atau tidak. Tapi kami mulai kehabisan bahan obrolan saat bersama. Hal itu membuatku merasa sedih. Menyadari bahwa kami sudah sedemikian jauh satu dengan yang lain. Banyak hal terjadi selama satu tahun lalu, membuat duniaku sedikit berbeda dengan dunia Riyan. Aku bahkan sudah tidak mengobrol banyak dengan Arif. Lalu, beberapa orang mengatakan keburukan-keburukan Riyan, membuat orang-orang jengkel. Mereka bertanya mengapa aku tetap berteman dengannya, pada saat itu aku tidak banyak menjawab, tapi dalam hati aku merasa aku bahkan lebih menyebalkan dari Riyan.
Setelah lulus SMP aku melanjutkan ke SMA Satu, sementara Riyan pindah ke Jawa Barat. Beberapa bulan sekali Riyan akan pulang ke rumah lamanya, saat itulah aku akan mampir sepulang sekolah. Kadang Riyan yang datang ke rumahku dan ia selalu membawa bingkisan membuatku merasa menjadi nenek-nenek dikunjungi cucunya. Kami membicarakan aktivitas kami masing-masing, membandingkannya dengan masa SMP kami. Aku bercerita tentang betapa menyenangkannya teman-teman kelasku. Ia mengucapkan selamat karena akhirnya aku menemukan kelas senyaman kelasku saat SD. Aku sedikit kagen, tapi lalu teringat aku sangat sering menceritakan teman-teman dan masa-masa SD-ku padanya. Sepertinya ia menyadari aku merasakan beberapa ketidaknyamanan saat SMP dan itu membuatku tidak terlalu suka masa SMPku. Padahal Riyan sendiri adalah bagian dari masa SMPku. Tapi ia adalah salah satu bagian yang terbaik. Aku bersungguh-sungguh.
Aku tetap melalui jalan di depan rumah lama Riyan setiap berangkat dan pulang sekolah. Seringkali keluarga Riyan berada di depan rumah dan aku hanya tersenyum ke arah mereka sementara ibu dan kakaknya meneriakiku untuk mampir.
Selulusnya dari SMA aku melanjutkan pendidikanku ke kota Yogya. Riyan tetap di Jawa Barat membantu usaha jahit pakaian milik bibinya. Sesekali kami bertukar kabar dan cerita.
Pada 2014, pamanku dari jalur Bapak menikah, akhirnya setelah begitu lama. Istrinya ternyata adalah bibi Riyan dari jalur ibunya. Bapakku dan Ibu Riyan berasal dari daerah yang sama, pamanku dan bibi Riyan entah bagaimana bertemu lalu menikah. Saat aku pulang kampung, Riyan sudah cembali menetap di rumah lamanya. Aku berkunjung dan ibunya sangat senang karena akhirnya kami bersaudara secara tidak langsung.
Desember 2014, aku memutuskan mampir pulang usai menghadiri resepsi pernikahan seorang kakak tingkat di kampus di Jakarta. Aku turun di tengah perjalanan, sementara bus rombongan melanjutkan perjalanan kembali ke Jogja. Saat itu musim hujan dan beberapa titik jalanan banjir, termasuk sepanjang jalan dari rumah lama Riyan hingga gang depan rumahku. Riyan sedang bermain dengan keponakan-keponakannya saat tanpa sengaja kami bertemu. Dia terkejut, tapi lalu menyapaku. Melihat tas ransel dan tas jinjing yang kubawa, dia mengambil sepeda lalu menawariku untuk menaruh barang-barangku di keranjang sepedanya, lalu mengajak serta keponakan-keponakannya untuk berjalan menemaniku sampai gang menuju rumahku. Aku menolak karena merasa terlalu merepotkan, tapi ia beralaoan memang hendak melihat-lihat banjir, hingga sejauh mana jalanan tergenang air. Bapak dan adikku mengajaknya mampir, tapi ia menolak dengan alasan hari sudah sore dan keponakannya harus segera mandi.
Melihat Riyan dan keponakan-keponakannya berjalan menjauh, ada sesuatu yang berat muncul di dadaku, dan mataku sedikit terasa panas. Aku merasa sedih atas takdir Riyan. Aku menemui banyak orang hebat dan pengalaman tak tergantikan, tapi Riyan hanya di sini, di kota kecil tempat kami lahir dan tumbuh. Malam itu, Mamaku menghiburku mengatakan bahwa kita tak berhak mengasihani orang lain. Karena aku juga tidak menemui orang-orang yang Riyan temui dan pengalaman-pengalaman lain yang ia lalui. Manusia yang bersyukur tidak boleh dikasihani. Kupikir mamaku benar.
Aku mengunjungi Riyan pada kepulanganku selanjutnya, yaitu pada libur akhir semester. Seperti biasa keluarganya sangat ramah padaku. Dan seperti selalu ibunya merasa tidak cukup memberi suguhan sampai beliau menawariku makan. Aku selalu nyaman berkunjung ke rumah ini. Tapi, aku sedikit terkejut dengan kondisi ibu Riyan. Beliau tampak sakit. Saat orang-orang pergi dan hanya ada aku dan Riyan, aku memberanikan diri bertanya. Riyan mengatakan bahwa ibunya memang sedang sakit dan memintaku membantu mendoakan kesembuhannya.
Riyan sering bercerita tentang nasihat-nasihat ibunya. Aku tahu ia sangat sedih dengan kondisi beliau saat itu. Riyan nyaris sepertiku yang mudah menceritakan banyak hal pada sosok Ibu, tipikal anak penurut apa nasihat orangtua. Aku mengalihkan obrolan dengan bercanda bertanya apakah ia berencana segera menikah. Ini hal umum di lingkungan masyarakatku, ketika seseorang tidak melanjutkan pendidikan dan tidak sedang mengejar karir, biasanya mereka memilih memfokuskan diri pada rencana pernikahan, atau mencari pasangan paling tidak. Riyan berkata ia masih belum dewasa dan aku sangat percaya hal itu dari nada bicaranya pada ibunya yang masih semanja saat SMP.
Ketika aku pulang ke Yogya dengan beberapa perasaan tidak nyaman yang kubawa serta, Riyan menghiburku sepanjang perjalanan melaui SMS hingga aku memutuskan untuk tidur. Banyak sekali hutangku padanya meski aku tahu ia tak hendak menagihnya.
Pada kepulanganku yang terakhir --hanya dua hari di akhir pekan-- Aku tidak mengunjungi Riyan meski aku melewati rumahnya. Rumah itu tampak sepi. Aku hanya melihat ayah Riyan sedang berjalan di teras. Padahal biasanya selalu saja ada orang duduk-duduk di teras itu. Aku pulang kampung dan berangkat lagi tanpa mengabari Riyan.
Sepekan setelah itu adikku mengabarkan tentang kematian Ibu Riyan.
Aku sungguh terlalu tidak pernah melakukan apapun untuknya. Saat aku mengiriminya pesan ia mengatakan bahwa ibunya percaya ia dan adiknya sudah mampu hidup tanpa beliau. Riyan dengan segala kemanjaannya pada ibunya. Aku terkenang kebaikan hati Ibu Riyan, keramahannya, teriakannya saat melihatku melintas di depan rumahnya, banyak hal tentangnya. Aku menyesal tidak mengunjungi rumah itu saat kepulanganku yang terakhir. Aku bahkan tidak menelepon Riyan.
Sore setelah meninggalnya ibu Riyan aku bertemu beberapa teman SMA yang berkuliah di Jogja. Kami makan bersama dan saling bercerita tentang tentang hal-hal kecil dan lucu yang kami alami. Sejenak aku teringat Riyan. Aku bersama teman-temanku di sini dan Riyan degan kesedihannya seorang diri di sana. Kapankah kami pernah makan bersama seperti yang sedang aku lakukan? Satu-satunya momen makan bersama adalah saat syukuran kesembuhan Riyan enam tahun yang lalu. Aku semestinya berterimakasih pada ibu Riyan karena telah menjadi sebab dan perantara momen itu.