Welcome to My Site! may you find some good in these words
Tampilkan postingan dengan label Journal. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Journal. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 28 Maret 2020

Am I Chasing Rainbow?



Lagu Rainbow Connection yang pertama kali kudengar adalah versi Jason Mraz (sampai tahun 2017 aku tidak tahu kalau lagu ini berasal dari The Muppet Movie dan berpikir bahwa ia merupakan salah satu dari sekian lagu non-album Jason Mraz yang bahkan tidak memiliki versi studio). Jadi, lirik yang mulanya kukenal adalah versi lompatan. Ya, liriknya melompat dari Rainbows have nothing to hide langsung menuju ke What's so amazing that it keeps us stargazing. Dan, kupikir itu versi yang lebih baik daripada aslinya, meskipun jelas-jelas mengacaukan ceritanya. Setidaknya, tidak ada bagian ...every wish would be heard and answered when wished on the morning star.

Tapi bukan untuk membahas hal itu niat awalku membuat tulisan ini.

Pertama kali mendengar lagu Rainbow Connection, mungkin sekitar  tahun 2009. Lirik yang tidak utuh dan bahasa inggris yang kacau, tidak banyak hal yang bisa aku pahami dari lagu yang belakangan aku dengar katanya lullaby itu. Aku bertanya-tanya bagaimana Rainbow keeps us stargazing? Memangnya ada pelangi di malam hari? Dan bukannya stargazing itu ngelihatin bintang? Apa hubungannya dengan pelangi?

Meski tak paham maksud keseluruhannya dan salah memaknai kata it dalam salah satu bagian liriknya, aku menyukai bagian per bagian dari lagu tersebut. Aku menyukai bagaimana lagu itu justru diawali dengan bertanya mengapa ada banyak lagu tentang pelangi padahal pelangi itu sebenarnya hanya ilusi optik. Meski indera penglihatan kita bisa menangkapnya, tapi kita tahu ia bukan semacam materi padat yang berdiri sendiri. Kenyataannya adalah ia (atau mereka) adalah kumpulan besar partikel air dan cahaya. Bagaimanapun kita berusaha, kita tidak akan bisa menjangkau pelangi. Mentok kita bisa menjangkau partikel air yang terbias cahaya itu.

Bertahun berlalu. Saat aku bukan penikmat aneka lagu, entah bagaimana aku menemukan kalau penyanyi asli Rainbow Connection ini justru si Kermit The Frog. Penemuan ini sekaligus menjawab kebingungan lama yang sebenarnya sudah lama aku lupa dan tidak kupedulikan; maksud keseluruhan dari liriknya. Dan aku cuma berpikir, "Lullaby yang berat.."

Aku tidak tahu kenapa Rainbow Connection muncul kembali di kehidupanku (Waw, alay sekali), lebih tepatnya kenapa aku mendengarkan Rainbow Connection lagi, tapi anehnya aku merasa lagu ini seolah memang untukku. Aku tidak sedang menghadapi keraguan orang lain terhadapku, sebaliknya, aku tengah menghadapi keraguan diriku sendiri. Tiba-tiba, aku ingin memiliki sedikit saja keyakinan Kermit. Tapi, ternyata hal itu sangat sulit. Di kehidupan nyata, hal itu sungguh sulit. Meski begitu aku tidak akan mengatakan tidak mungkin.

Aku bertanya-tanya apakah mengejar cita-cita adalah pilihan terbaik di tengah segala situasi dan kondisiku saat ini?

Aku tidak tahu apakah yang kukejar ini adalah pelangi atau bintang? Keduanya indah, bukan? Tapi kita tahu bintang nyata sedangkan pelangi tidak. Aku tidak keberatan bersusah payah untuk mencapai bintang yang tinggi itu, tapi bagaimana jika ternyata yang kukejar adalah pelangi? Sementara waktu terus berjalan, aku telah melewatkan berbagai kemungkinan dan kesempatan lain untuk mengejar hal itu, sesuatu yang saat ini mungkin paling tepat kuberi nama cita-cita (?)

Sebenarnya, aku anggota tim Percaya Takdir. Aku tahu dan percaya bahwa takdir setiap manusia telah selesai ditulis, bahkan sejak 50.000 tahun sebelum langit dan bumi diciptakan, termasuk takdirku. Dan setiap orang akan dimudahkan jalannya menuju takdirnya.

"Allah telah menulis takdir setiap makhluk sejak 50.000 tahun sebelum penciptaan langit dan bumi." (HR. Muslim No. 2653)

"Beramallah kalian! Sebab semua telah dimudahkan terhadap apa yang diciptakan untuknya." (HR. Bukhari)

"Tiada bencana yang menimpa di bumi dan tidak (pula) pada diri kalian sendiri kecuali telah tertulis pada Kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Yang demikian itu ) supaya kamu tidak bersedih hati terhadap apa yang luput darimu dan jangan pula terlalu gembira terhadap apa yang Dia berikan kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong dan membanggakan diri.” (QS. Al Hadid: 22-23)

Aku juga tahu ketidaktahuan kita terhadap apa yang akan menimpa diri kita, dengan diikuti kenyataan bahwa apapun itu yang akan menimpa kita telah ditetapkan oleh Tuhan, dan Dia tidak sedang melempar dadu atas kehidupan kita, dan bahwa yang menetapkan takdir itu adalah Tuhan yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, yang bahkan jika kita berjalan mendekati-Nya, Dia akan berlari menjemput kita, seharusnya mampu membuat diri kita tenang, tidak terlampau bersedih hati maupun terlalu bergembira. Menghadapi segalanya dengan penuh kesyukuran dan kesabaran. Betapa sebuah kebahagiaan dalam hidup ini!

Selain itu, kita tahu, ada satu mesin pengubah takdir, ialah DOA. Dan tidak seorang pun yang memiliki iman yang baik, kecuali ia akan mengiringi doa-doanya dengan ikhtiar, dengan amal perbuatan, usaha yang nyata. Lalu menyerahkan apapun hasilnya pada kehendak-Nya. Itulah tawakal. Aku yakin orang itu akan menjalani hidupnya tanpa kegelisahan akan nasib dirinya.

Pertanyaannya, mengapa aku tidak demikian? 

Masalahnya kemudian adalah, pada titik ini, pada momen ini, aku menyadari sisi buruk diriku.

-

-

-

-

Jika doa adalah mesin pengubah takdir, bukankah seharusnya aku shalat dengan baik? Aku tidak berpikir telah cukup baik tentang shalatku. Padahal aku juga termasuk anggota tim Percaya Kekuatan Doa. Sebuah ironi yang aku bikin sendiri. Lalu aku sedihkan sendiri.

Bahkan seandainya kita tidak berdoa, dan katakanlah, hanya memasrahkan segalanya pada apa yang telah tertulis, bukankah kita masih harus beramal? Bahkan takdir, bukanlah sesuatu yang berdiri sendiri, mengikat bersamanya adalah Hukum Sebab-Akibat.

Ketika aku flashback kembali pada hari-hariku yang telah lalu, aku menemukan betapa banyak saat aku menjalani aktivitasku dengan tidak disertai kesungguhan. Betapa banyak hal yang kuperbuat tanpa mengupayakan yang terbaik dari diriku.

Aku mungkin tidak akan mendapat hasil yang lebih baik, tapi setidaknya, aku tahu bahwa aku telah menggugurkan bagian sebab yang negatif sebelum memperoleh akibat, “sebab aku kurang bersungguh-sungguh, akibatnya hanya inilah hasil yang kuperoleh, tidak cukup banyak untukku merasa percaya diri”.

Dengan sebab kesungguhan, setidaknya aku akan lebih mampu menghargai diriku dan berkata, “Barakallah, diriku! Kamu telah berusaha dengan baik.”

Tapi dengan begitu banyak kekurangsungguhan, masihkah aku kebagian barakah?

Untuk hal-hal yang belum terjadi aku bertanya, “am I chasing rainbow?” dan bersedih. 

Dan, pada saat aku menyadari bahwa jawabannya tidak bisa kujawab sendiri, Dia memberikan jawaban melalui lisan seseorang, “Bahkan ketika kamu tidak tahu apakah akan berhasil atau tidak, kamu tahu bahwa kamu tidak sedang mengupayakan sesuatu yang buruk, bukan? Selagi kamu tahu itu baik, dan kedua orangtuamu meridloimu, insya Allah Dia pun ridlo. Selanjutnya adalah, apakah kamu akan ridlo pada apapun ketetapan-Nya nanti?”

Lalu, sampai kapankah aku harus mengupayakannya? Apakah tanda untuk berhenti? 

Bukankah kamu belum lelah? Kenapa berbicara tentang berhenti ketika dalam hatimu masih ingin melanjutkan? Mari kita bicara tentang “berhenti” ketika “ingin” itu telah muncul dalam dirimu.”

Bagaimana jika yang muncul bukan “ingin”, tapi hanya “ragu”?

“Karena setiap kita akan dimudahkan jalan menuju takdir kita, jika sesuatu itu bukan bagian dari takdirmu, Dia akan memalingkan hatimu pada sesuatu yang menjadi jalanmu, entah dengan cara apa. Mungkin kesempatan-kesempatan lain yang biasanya kamu acuhkan, tiba-tiba begitu menarik hatimu. Atau, sesuatu hal lain yang tidak pernah terlintas, begitu saja muncul dan kamu tidak dapat berbuat kecuali mengikutinya. Kita tidak tahu. Maka, selagi hatimu masih belum berpaling dari sesuatu itu, yakini saja sesuatu itu mungkin takdirmu. Sekarang, terlepas dari modal awal yang kamu miliki, upayakan sebab terbaik untuk menjemput takdir itu.” 

Pada akhirnya, aku percaya pada takdir Tuhan. Seperti juga aku percaya bahwa kehidupan yang tenang hanya berlaku bagi orang dengan keimananan yang baik. Dan ia yang beriman dengan baik akan berdoa dengan baik dan melakukan segala amalnya dengan totalitas dirinya. Ia akan menjalani hidupnya tanpa penyesalan.

Dan kupikir, Kermit adalah salah satu yang melakukan amalnya dengan sungguh-sungguh (meskipun sepertinya ia bukan anggota tim Percaya Takdir dan Kekuatan Doa). Lihatlah kepercayaan dirinya dalam Rainbow Connection! 






Rabu, 18 Maret 2020

Bahkan Kita Tidak Merasa Aman untuk Sekadar Bernapas

Seberapa sering kita menyusun rencana, tapi seketika digagalkan oleh takdir?


Ilustrasi 3D sars-cov-2. Gambar diambil dari Forbes

Aku menghitung gaji bulananku, berpikir akan menyisihkan sekian persen tiap bulan sehingga pada awal Juni aku akan memiliki sekian rupiah yang akan kugunakan untuk suatu hal.

Teman kamarku memesan penginapan untuk kedua orangtuanya jauh hari sebelum wisudanya pada pertengahan April, sebuah upaya mendapat tempat di dekat kampus dengan harga miring.

Temanku yang lain berencana menyelenggarakan resepsi pernikahan pada akhir Maret tahun ini dan mulai menyebar undangan H-14 hari.

Anak-anak panduanku di asrama berencana pulang ke rumah mereka (yang mayoritas di luar Jawa) saat libur Ujian Nasional. Mereka merengek agar diijinkan pulang sejak hari Jumat sebelum pekan UN.

Yang terjadi..

Sejak Senin lalu, satu per satu anak-anak meninggalkan asrama. Kini, Rabu, hanya tersisa tiga anak, mereka yang memutuskan, lebih tepatnya diputuskan oleh orangtua mereka, untuk menetap di asrama. Wabah Covid-19 ulah Sars-Cov-2 menjadi alasan dilaksanakannya program belajar di rumah. Meskipun, pihak sekolah dan asrama menyarankan anak-anak tidak dibiarkan pulang sendiri dengan kendaraan umum, dan lebih baik menetap di asrama, mereka tetap pulang. Sebagian ke rumah sanak saudara di Jawa, sebagian dijemput orangtua dengan kendaraan pribadi, dan sebagian kecil, dengan diiringi bismillah, pulang sendiri dengan kendaraan umum.

Dengan alasan yang sama, Covid-19, wisuda kawanku ditunda hingga waktu yang belum bisa ditentukan. Sedangkan pernikahan kawanku yang lain sepertinya harus mencukupkan dengan akad dan menunda resepsi hingga wabah mereda. Dan aku? Sepertinya pendapatan bulananku menurun karena jadwal mengajar ikut libur seiring wabah yang mulai menyebar. Demikian, sekian rupiah di bulan Juni sepertinya harus kupikirkan ulang. Juga kami mempersiapkan diri untuk melalui Ramadhan dan Idul Fitri tanpa keluarga tercinta..

Pandemi global ini pasti telah mengubah sangat banyak rencana yang disusun manusia...

Sejujurnya, selain berharap wabah ini segera mereda supaya tidak bertambah lagi korban, aku juga berharap simulasi yang menyatakan bahwa puncak wabah akan terjadi pada bulan Ramadhan tidak menjadi kenyataan, sehingga bulan Ramadhan dan Idul Fitri akan tetap semeriah tahun-tahun yang sudah. Seumur hidupku, aku tinggal di negara dengan Muslim sebagai mayoritas penduduknya. Banyak di antara mereka bukan Muslim yang taat, tapi tetap saja Ramadhan tidak pernah berlalu sebagai bulan yang biasa-biasa saja, dan Idul Fitri selalu penuh kegembiraan, bahkan meski dalam suasana banjir seperti pada tahun 2005.

Karena iman kami yang masih amat lemah, sehingga tidak bisa beribadah sama khusyuknya dalam apapun keadaannya, aku mengharapkan Ramadhan yang jauh dari isu wabah. Saat Ramadhan tiba, orang-orang tak lagi khawatir soal Covid-19 dan hanya khawatir tentang target-target ibadahnya, semoga.

Di sisi lain, aku memikirkan, apakah ini perasaan Saudara-Saudari kami di wilayah konflik? Setiap saat adalah teror.

*****

Pada awal Februari, aku masih mendengar orang-orang berbincang tentang virus ini, berkata seolah orang Indonesia kebal dan reseptor virus tersebut hanya ada pada orang-orang Chinese dan Kauka. Pada awal Maret, masih aku dengar orang-orang berbicara dalam nada meremehkan bahwa virus ini hanya seperti flu biasa, sedikit lebih berat, tapi tidak berbahaya, selama daya tahan tubuh kita baik. Beberapa menjadikan virus ini sebagai bahan candaan. Hari ini, semua orang memandangi update berita Covid-19 di Indonesia.

Memang selamanya, keangkuhan meskipun sedikit, tidak pernah menempati tempat yang sama dengan kata baik.

Selasa, 07 Januari 2020

Ratapan Christina Rossetti


Why were you born when the snow was falling?
You should have come to the cuckoo’s calling,
Or when grapes are green in the cluster,
Or, at least, when lithe swallows muster
For their far off flying
From summer dying

Kenapa kau lahir saat salju membuat langit bungkuk?
Andai saja kau tiba ketika musim dekut burung kukuk
Atau saat buah-buah anggur di tandan meranum hijau
Atau, setidaknya, saat kawanan burung camar berkicau
Sehabis menempuh perjalanan jauh yang ganas
Menyelamatkan diri dari serangan musim panas

Why did you die when the lambs were cropping?
You should have died at the apples’ dropping,
When the grasshopper comes to trouble,
And the wheat-fields are sodden stubble,
And all winds go sighing
For sweet things dying

Kenapa kau mati saat bulu-bulu domba dipangkas?
Andai saja kau pergi ketika buah-buah apel ranggas
Atau saat gerombolan belalang berubah jadi masalah
Dan ladang gandum semata hamparan jerami basah
Dan napas angis berembus sangat berat
Sebab semua hal indah tiba-tiba sekarat

A Dirge - Christina Rossetti
(diterjemahkan oleh M. Aan Mansyur/ @hurufkecil)



Banyak dari kita suka bertanya, saat seseorang yang masih muda meninggal dunia, terlebih jika itu seseorang yang kita pernah mengenalnya, pernah bersinggungan dengannya; 

Mengapa ia pergi?

Sulit untuk tidak bergumam, meski hanya dalam hati, ia masih begitu muda..

Kalian yang pernah mengalami, pasti memahami. Rasanya bercampuraduk. Apakah itu kesedihan, kehilangan, keterkejutan, atau sebenarnya hanyalah tumpukan ketakutan.. Sebab ternyata kematian itu datang begitu saja, begitu tiba-tiba.

Seperti lebih mudah jika yang pergi seorang renta; yahhh, ia memang sudah tua dan pesakitan. Tapi, kenyataan bahwa yang pergi dari dunia adalah seorang yang masih belia, begitu muda, dalam puncak kejayaannya. Saat harapan-harapan, cita-cita, dan impian melekat pada dirinya. Di hadapannya ada jalan-jalan. Sayangnya, ia tak memiliki waktu.

Seorang yang mati muda, seperti seseorang yang datang di musim yang buruk dan pergi justru saat musim membaik. Ia tak menikmati apapun. Lebih mudah andai ia datang saat musim membaik, memeroleh segala kebaikan dari masa itu, lalu pergi saat musim memburuk. Seseorang mungkin akan tetap merasa kehilangan, tapi setidaknya tidak ada yang akan menyesalinya, sebab memang tak ada lagi yang layak diharapkan dari masa itu, dan pula orang-orang tahu ia telah mendapatkan sesuatu saat pergi.

Mungkin hal itulah yang ingin diungkapkan Rossetti melalui puisinya di atas. Ia memilih kata-kata yang manis, juga perumpamaan yang manis. Saya sangat menyukai bagaimana Rossetti mampu mengungkapkan perasaan yang dalam melalui puisi-puisinya. Sayangnya, saya pikir, terlalu banyak ratapan, seandainya ia menggunakan kemampuannya itu untuk mengungkapkan perasaan-perasaan yang lebih positif, seperti syukur misalnya.

Adakah yang tahu pasti musim terbaik bagi seseorang?

Tidak ada seorang pun yang tahu apa pastinya yang telah diperoleh seseorang dalam hidupnya, baik singkat ataupun lama usianya dalam pandangan kita; manusia.

Bagi orang-orang terdekat yang ditinggalkan, mengikhlaskannya pergi bukan hal mudah. Mengikhlaskan bisa dimulai dengan tidak mempertanyakan takdir Tuhan meski dalam hati, cukup dengan perkataan; Sesungguhnya kita milik Tuhan, dan hanya kepada-Nya kita kembali.

Bagi orang-orang di luar lingkaran terdalam, mungkin beberapa merasakan kehilangan, kedukaan, tapi mungkin juga hanya seperti yang dideskripsikan Truman Capote dalam In Cold Blood; suatu sensasi horor yang dangkal, yang diperdalam oleh ketakutan pribadi (hal. 108).

Yang muda pun tidak terlepas dari bayang-bayang kematian.

Sabtu, 06 Juli 2019

Bagaimana Tepatnya Aku Melihat?



Sering kali, bahkan setiap kali, seorang Muslim berbicara di depan khalayak, ia membukanya dengan pujian kepada Allah atas segala nikmat-Nya, karunia-Nya, hidayah-Nya… dan aku bertanya-tanya, sesungguh apakah aku merasai nikmat, karunia, hidayah itu? Sesungguh apakah aku menghayati segala kebaikan yang Allah berikan padaku?

Sabtu, 05 Januari 2019

art is a lie... (2)

“We all know that art is not truth. Art is a lie that makes us realize truth, at least the truth that is given us to understand. The artist must know the manner whereby to convince others of the truthfulness of his lies.”
– Pablo Picasso

Di sekolah saya, untuk waktu yang cukup lama, hanya ada satu mata pelajaran seni, yaitu seni rupa. Dan untuk waktu yang lama pula, hanya ada satu guru yang mengampu pelajaran tersebut, ialah beliau Pak Guru yang “bergelar”. 

Awalnya, saya kira merupakan sebuah keberuntungan, tahun ketika saya memasuki SMA, seorang guru seni rupa baru datang. Beliau masih muda, dan jelas, idealisme metode pembelajaran seorang sarjana pendidikan masih melekat pada diri beliau. Beliau mengajar separuh kelas sepuluh (X.5-X.8), salah satunya adalah kelas saya, X.7, maka mimpi buruk pelajaran seni rupa bersama Sang Legenda dapat kami tunda...

Sayangnya, penangguhan waktu terkadang bisa menjadi sesuatu yang lebih buruk.

Dan kenaikan kelas pun datang…. Betapa menakjubkannya rencana Tuhan, beliau Sang Legenda menjadi wali kelas saya!

Tidak banyak yang dapat saya ingat dengan pertemuan-pertemuan awal selain rasa deg-deg-an, tegang, takut salah, setiap senin pagi. Seni rupa adalah mata pelajaran di mana kami belajar teori di kelas, mendapat tugas untuk dikerjakan di rumah, dan pekan selanjutnya, kami harus meletakkan tugas kami di atas meja, lalu beliau berkeliling, bertanya, dan berkomentar. Kadang beliau menghendaki kami mengajukan pertanyaan, semacam sesi konsultasi karya, tapi tidak jarang kami merasa salah ucap dan berakhir pada…yah, begitulah…

Hingga pada suatu senin, setelah menjelaskan teori tentang teknik plakat dan aquarel, balance, serta lighting, beliau mengajak kami keluar kelas dan memilih satu objek untuk kami buat sketsanya. Jika beliau acc, kami bisa melanjutkan dengan mewarnainya di rumah, menjadi lukisan yang sesungguhnya.

Saya memilih sebuah tanaman dalam pot yang pecah sebagai objek. Saya berusaha menerapkan teori yang beliau sampaikan di kelas. Dan pada senin berikutnya, saya datang dengan… 



Saya berdoa, beliau mengabaikan gambar saya dan terus berkeliling. Saya harap beliau akan berhenti di meja lain, tapi begitulah…beliau mengangkat buku gambar saya, menunjukkannya pada seisi kelas dan berkata,”Ini contoh teknik plakat yang saya sampaikan minggu lalu.”

Sungguh saya merasa lega dan berbangga mendapat "pujian" kecil tersebut.

"Hanya dan hanya pot-nya." lanjut beliau, mengakhiri segala kebanggaan saya.

art is a lie... (1)


“We all know that art is not truth. Art is a lie that makes us realize truth, at least the truth that is given us to understand. The artist must know the manner whereby to convince others of the truthfulness of his lies.”
– Pablo Picasso 

(Kita semua tahu bahwa seni bukanlah kebenaran. Seni adalah kebohongan yang menyadarkan kita akan kebenaran, setidaknya kebenaran yang memang dibuat supaya dapat kita mengerti. Seorang seniman harus mengetahui dengan jalan seperti apa ia mengungkapkan kepada orang lain kebenaran dari kebohongannya)



Hampir di semua sekolah, di semua jenjang pendidikan, ada satu—atau dua—guru yang mendapat gelar kehormatan “killer”. Beruntungnya, gelar itu tidak berarti sebagaimana harfiahnya, tapi hanya sebuah kata yang menggambarkan ketegasan—karena tidak sopan menyebutnya galak, atau karena mata pelajaran yang diampunya terlalu sulit sehingga beliau dinilai “guru yang tidak mudah”. 

Coba flashback dan temukan kembali sosok tersebut… 

Tidak ada? 

Mungkin masa sekolah Anda kurang seru, hehe 

Coba ingat-ingat lagi…mungkin beliau adalah wali kelas III saat SD, atau guru mata pelajaran Biologi saat SMP, atau…The Legend and the Only One guru Seni Rupa SMA?

Ketika Bapak saya membuatkan sketsa berbagai objek dengan sangat baik, Ibu saya menggambar rumah yang seperti akan roboh, kerbau yang seperti bebek, dan ayam yang seperti telur. Dari sanalah ibu saya bercerita tentang sulitnya mata pelajaran seni rupa semasa SMA. Beliau bersama kawan sekelasnya harus duduk di depan gerbang sekolah, lalu melukis apa yang mereka lihat di hadapan mereka.

Saat itulah sketsa kerbau pertama ibu saya dibuat, bersama hamparan sawah musim tanam sebagai latarnya, dan….lukisan itu tak pernah selesai, apalagi dinilai. Seorang kawan berbaik hati membantu dalam tugas tersebut,  menyelamatkannya dari Kaidah No. 1 melukis yang sering disampaikan guru seni rupanya, “Tidak ada lukisan yang salah…cuma jelek.”

Belasan tahun kemudian, guru seni rupa ibu saya menjadi guru seni rupa kakak saya, dan empat tahun setelah kakak saya, beliau menjadi guru seni rupa saya juga…What a beautiful life.

Sabtu, 01 Desember 2018

Hourglass



The phone was ringing,
and I could hear your voice saying,

“Girl, your dad will go fishing with his friends next week.

They asked him yesterday, ‘Will your little daughter join us? Just like before — she was good at fishing.’

Your dad laughed and said, ‘I don’t have a little daughter anymore.’

It was years ago, Girl. It seems like old people, like me, are trapped in the past. We struggle to erase beautiful old memories, yet easily forget what we just did. I think it’s because we know time is flying, so we refuse to simply let it go.

So your dad told them, ‘My girl hasn’t gone fishing since the last time we did. She’s studying now, miles away.’”

“I’m 22 now,” I said.
“Sure, you’re 22, Girl.”

And then, silence…

“Mom, I keep remembering the time when Piyokta sat on the back of my bicycle, holding my red-and-white uniform tightly. Those days — when she was only a first grader. It was the dry season. I can still feel the warmth of her hands, the smell of her baby powder, and the fog passing across our faces. She’s taller than me now. It’s a little funny.”

My mother said, “I still remember the mornings when I had to cook early, angrily telling you all to eat breakfast. But the three of you always said, ‘We’re going to be late!’ That wasn’t my fault — you three should’ve woken up earlier. Still, I happily watched you go to school: Piyokta in her red-and-white uniform, you in your white-and-navy blue, and your older sister in her white-and-gray. The three of you rode your bicycles to school together.”

“I’m 22 now…”



Senin, 27 November 2017

Juni Ke-20

Kadang aku berpikir ia terlalu memengaruhi diriku dan betapa menyebalkannya hal itu. Tapi di saat seperti sekarang, aku memerlukannya, maka lagi-lagi aku mengikuti cara berpikirnya, maka lagi-lagi aku menentukan sikap setelah mendengarkannya. Hal yang sama yang telah terjadi selama bertahun-tahun kehidupanku.

Jumat, 08 September 2017

Katarsis, Kontemplasi, dan Ahlullah

Pada bulan Syawal tahun lalu, seorang sahabat lama berkunjung ke rumah. Hari mulai petang ketika aku menyadari aku mendengarkan ia sedari tadi. Usai shalat maghrib, ia pamit pulang, tetapi di halaman, sempat ia berkata, "Katarsis. Aku mungkin hanya sedang berkatarsis. Kamu tidak keberatan kan?"


Senin, 16 Januari 2017

Tonight, in My Mind

Saya dulu (dulu itu berarti sebelum kuliah), punya cukup waktu tiap malam untuk sendirian, atau kalau pas adek numpang tidur di kamar saya, dia udah tidur. Biasanya sebelum baca doa tidur, masih sempet mikir-mikir ngapain aja seharian, tadi saya dijahatin siapa aja, njahatin siapa aja, masih sempet dear diary gitu deh. Yah, minimal setahun satu buku agenda yang tebel abis lah...


Sabtu, 17 September 2016


Rabu, 17 Agustus 2016

Menilai Manusia

Banyak orang menulis. Apa saja. Yang bisa ditulis. Kadang mereka mengkhususkan diri menulis hal-hal tertentu. Banyak juga yang hanya menuliskan keresahan hatinya sendiri.

Mengenali orang, katanya, bisa lewat tulisannya. Saya sepakat. Pemikiran seseorang, bisa dilihat lewat apa yang ia tulis. Saya sepakat lagi. Apa yang sering ia tulis, itulah yang banyak ia pikirkan, maka pada usia yang sama ada orang yang memikirkan kemaslahatan orang banyak, ada yang berkutat berputar-putar pada dirinya sendiri. Lagi, saya sepakat, pada sebagiannya.


Kamis, 28 Juli 2016

Great Perhaps


Aku mulai membaca novel saat kelas dua SD. Ada cukup banyak novel anak-anak di rumah dan di perpustakaan sekolah, kebanyakan terbitan Balai Pustaka dengan latar cerita tahun 1980an, maka sebagian besar cerita yang kubaca mengisahkan tentang pentingnya bersekolah, jasa seorang guru, semangat pembangunan, dan transmigrasi. Ada beberapa yang mengambil latar menjelang Indonesia merdeka dengan tokoh anak-anak yang ikut serta membantu perjuangan, semampu dan sekuat yang mereka bisa.


Jumat, 25 Desember 2015

Dear Sam

"Kau simpan gantungan kemudi ini, aku akan simpan gantungan jangkarnya."

"Kenapa aku yang kemudi? Kenapa bukan yang jangkar?"

"Supaya kau bisa mengarahkan kapal kita ke mana saja yang kau inginkan."

Senin, 11 Mei 2015

RIYAN

Aku memiliki seorang teman yang kutemukan saat SMP. Ah, bukan aku yang menemukan, dialah yang menemukanku lebih dulu --dan aku bersyukur dia menemukan (dan memilihku) di antara banyak orang yang bisa dijadikannya teman. Namanya Riyan... Dan dia mungkin tidak akan pernah membaca tulisan ini.

Aku mengenalnya saat hari pertama masuk kelas VIID. Ia orang pertama yang kukenal di kelas itu. Aku tidak memiliki pilihan dalam berteman. Lagipula tak ada seorang pun yang kukenal. Jadi, ketika seseorang membantuku mencari tempat duduk, dengan senang hati aku menerimanya.

Dia mengajakku berbicara seolah aku teman lamanya, sementara aku mencari tahu siapa dia. Dia mengajakku bercanda, tapi aku hanya tertawa demi kesopanan.

Dia mengajakku pulang bersama dan aku tidak menolak. Rumahnya searah denganku. Ia mengaku biasa melihatku dan kakakku bersepeda melintasi rumahnya saat pagi, saat kami berangkat sekolah. Itulah alasannya sok akrab denganku. Dan jadilah kami sepasang kawan yang tidak dikenal di sekolah. Sepasang anak dari seberang kali (baca: sungai) yang dekil dan tidak rupawan. Tidak tinggi dan tidak kaya. Sepasang anak biasa-biasa saja.

Hari-hari selanjutnya kami selalu pulang bersama, meski nyaris tak pernah berangkat bersama. Ia senang mengolok-olokku karena berangkat sekolah terlalu 'on time'. Untuk mencapai sekolah, aku harus menyeberangi sebuah sungai yang jembatannya roboh diterjang sampah saat hujan deras mengguyur beberapa bulan sebelum aku masuk SMP. Selama pembangunan jembatan baru, orang-orang menggunakan jasa penyeberangan dengan perahu, termasuk puluhan siswa sekolah (rasanya seperti anak suku pedalaman).

Saat siang, air sungai surut jauh ke bawah sehingga cukup sulit untuk menurunkan dan mengangkat sepeda. Riyan suka mengataiku karena sering hampir tidak kuat mendorong sepedaku naik dari perahu, tapi kadang-kadang ia berbaik-hati membantuku. Di kelas, ia berteman akrab dengan Arif yang duduk tepat di depannya. Aku senang mendengarkan obrolan mereka yang sering tidak karu-karuan; tentang siswa perempuan di kelas kami yang disukai Arif, tips-tips dari Riyan yang tidak bermutu, kisah-kisah hantu, dan biasanya aku menyela dengan cerita MotoGP dan Detective Conan. Untuk yang terakhir, pembicaraan akan dikuasai oleh aku dan Arif, sementara Riyan dengan malas menjadi pendengar.

Riyan mempunyai kebiasaan yang tidak kusuka dan saat aku tegur ia malah dengan sengaja melakukannya berulang-ulang. Ia tidak menyukai apa yang aku suka dan aku tidak menyukai apa yang dia suka. Kami sering ribut saat mengobrol. Riyan suka menarik dasi dan kerah bajuku--aku selalu menyetrika dasiku dan mengenakannya dengan hati-hati di pagi hari, tapi ternyata hanya untuk dicengkeram Riyan di sekolah. Aku sering sangat marah padanya, tapi ia tidak sadar dan terus mengajakku bercanda. Aku mengatakan pada Mamaku bahwa aku ingin berhenti berteman dengan Riyan dan terus membanding-bandingkannya dengan teman-teman SD ku. Mamaku menasihati sebagaimana seharusnya seorang ibu. Aku tidak bisa lepas dari Riyan karena memang aku tidak punya teman akrab lain di kelas. Aku sering melihat-lihat teman sekelasku dan berdoa agar beberapa orang yang kurasa akan menjadi teman yang menyenangkan mau berteman denganku. 

Pada suatu siang, hujan deras turun, kami (aku dan teman-teman kelasku) keluar untuk bermain air dan di sanalah aku menghabiskan waktu bermain dengan Santi dan Anggi. Sejak hari itu aku memutuskan untuk berteman dekat dengan Santi. Sejak hari itu aku memiliki kenalan baru; teman-teman Santi dari kelas lain. Sejak hari itu aku memiliki beberapa teman untuk pulang bersama. Sejak hari itu Riyan sering menjadi pendengar saat aku asyik mengobrol bersama teman-teman yang lain. Aku tahu perlahan aku meninggalkan Riyan. Kurasa ia juga menyadari hal itu.

Di akhir kelas tujuh Riyan jatuh saat pelajaran pendidikan jasmani. Tangan kanannya patah. Selama beberapa hari ia tidak berangkat. Aku datang menjenguknya. Ibunya sangat senang dan memintaku untuk membantu Riyan terkait materi pelajaran yang Riyan tinggalkan selama sakit. Aku tidak keberatan. Beberapa hari kemudian Riyan berangkat dengan tangan kanan digendong. Ia berangkat diantar kakaknya dan hanya duduk mendengarkan saat di kelas. Sesekali ia menulis dengan tangan kiri. Aku merasa iba jadi aku membantunya membuat beberapa catatan. Tapi aku melihat ini sebagai kesempatan baik untuk balas dendam. Aku mengolok-oloknya karena tulisan tangan kirinya yang sangat jelek. Kadang aku juga membercandainya dengan mengingatkannya pada 'adegan lucu' saat ia jatuh yang membuat tangannya patah.

Cukup lama sampai Riyan melepas perbannya dan mulai menggunakan tangan kanannya kembali. Saat itulah Riyan mengajakku mampir ke rumahnya setelah pulang sekolah. Ia mengatakan bahwa ibunya yang menyuruhku mampir. Aku bertanya bolehkah mengajak serta Santi, Riyan bilang tentu saja boleh. Di rumahnya, ibu Riyan menyambut kami dengan ramah, seperti selalu setiap aku datang. Ternyata hari itu Ibu Riyan memasak istimewa untuk syukuran kesembuhan Riyan. Ibu Riyan ingin aku mencicipinya sebelum makanan itu dibagi-bagikan ke tetangga-tetangganya. Memintaku mencicipi masakan sebelum diangkat dari wajan. Beliau mengajakku mengobrol tentang banyak hal dan membantuku 'mengata-ngatai' Riyan, seperti kebanyakan ibu menjelek-jelekkan anaknya sebagai ungkapan sayang, bahwa mereka mengenal sangat baik anak-anak mereka. Seluruh keluarga Riyan bersikap hangat. Saat hendak pulang beliau membekaliku dengan tiga bungkus nasi; untuk dua saudaraku di rumah dan jika aku ingin makan lagi nanti. Beliau bahkan tahu jumlah saudaraku dan nama mereka. Pasti Riyan yang memberitahunya.

Sepanjang perjalanan pulang aku berpikir tentang betapa jahatnya aku selama ini. Ibu Riyan pasti berpikir betapa aku teman anaknya yang baik. Dan apakah yang Riyan pikirkan setelah banyak pengacuhan yang aku lakukan padanya? Bahkan selama tangannya belum pulih aku hanya membantu karena ia tidak meminta bantuan siapapun dan aku merasa iba. Aku sangat tahu kedekatan Riyan dengan ibunya sehingga aku penasaran penggambaran apa yang ia ceritakan pada ibunya tentang diriku hingga beliau repot-repot menjadikanku orang pertama yang menikmati masakannya itu. Santi betrakta padaku betapa baiknya kelurga Riyan dan bertanya apakah aku sangat dekat dengan keluarganya. Aku tidak tahu.

Aku menceritakan pada mamaku tentang pengalamanku hari itu. Mama menasihatiku, menyadarkanku tentang bagaimana peliknya sebuah hati. Tidak pernah kita tahu apa yang ada dalam hati seseorang. Kadang seseorang bersikap menjengkelkan, tapi dalam hatinya tak bermaksud membuat jengkel. Ia hanya tidak tahu apa yang membuat orang yang dihadapinya merasa nyaman.

Hari itu aku memutuskan untuk 'menerima kembali' Riyan.

Ketika nail ke kelas delapan, sekolah mengundi ulang pembagian kelas. Aku tetap satu kelas dengan Santi, terapi berbeda kelas dengan Riyan. Kelasku dan kelas Riyan terletak di sisi yang berlainan dari sekolah dan berjauhan. Aku semakin dekat dengan Santi dan mulai mencoba berorganisasi di OSIS, sementara Riyan tetaplah Riyan yang dulu. Kadang aku melihatnya pulang seorang diri sementara aku masih menetap di sekolah bersama anak-anak OSIS.

Ketika usiaku empatbelas tahun, Santi, Anggi dan Riyan menyiapkan hadiah ulangtahun untukku. Sementara mereka bersiap dengan itu, aku sibuk dengan Latihan Dasar Kepemimpinan di OSIS dan sebuah lomba di SMA Satu, membuat mereka menyimpan hadiah itu dua hari lebih lama dari tanggal ulangtahunku. Aku tahu uang saku Riyan dan aku pikir hadiahnya sedikit terlalu mahal. Untuk kesekian kali aku merasa Riyan berbuat terlalu banyak untukku.

Tapi semua itu tak bisa menjadikan kami sedekat saat kelas VII. Aku tetap berteman dekat dengan Santi, sementara Riyan kulihat memiliki beberapa teman baru. Kadang aku berpikir apakah Riyan sudah menggantikanku dengan yang lain? Aku segera sadar betapa egoisnya aku. Ketika pulang sekolah, terkadang aku bertemu Ibu atau Ayah atau Kakak atau Adik atau keponakan Riyan, mereka menawariku mampir tapi aku selalu membalas dengan senyuman saja.

Ketik kelas sembilan, kami kembali ke pembagian kelas saat kelas tujuh. Kini aku satu kelas lagi dengan Riyan. Aku mulai kembali dekat dengannya, tapi tak pernah bisa sedekat saat kelas tujuh. Banyak hal yang aku merasa lebih nyaman berbagi cerita dengan Santi dan bukan dengan Riyan. Aku tidak tahu apakah dia merasakan perbedaan itu atau tidak. Tapi kami mulai kehabisan bahan obrolan saat bersama. Hal itu membuatku merasa sedih. Menyadari bahwa kami sudah sedemikian jauh satu dengan yang lain. Banyak hal terjadi selama satu tahun lalu, membuat duniaku sedikit berbeda dengan dunia Riyan. Aku bahkan sudah tidak mengobrol banyak dengan Arif. Lalu, beberapa orang mengatakan keburukan-keburukan Riyan, membuat orang-orang jengkel. Mereka bertanya mengapa aku tetap berteman dengannya, pada saat itu aku tidak banyak menjawab, tapi dalam hati aku merasa aku bahkan lebih menyebalkan dari Riyan.

Setelah lulus SMP aku melanjutkan ke SMA Satu, sementara Riyan pindah ke Jawa Barat. Beberapa bulan sekali Riyan akan pulang ke rumah lamanya, saat itulah aku akan mampir sepulang sekolah. Kadang Riyan yang datang ke rumahku dan ia selalu membawa bingkisan membuatku merasa menjadi nenek-nenek dikunjungi cucunya. Kami membicarakan aktivitas kami masing-masing, membandingkannya dengan masa SMP kami. Aku bercerita tentang betapa menyenangkannya teman-teman kelasku. Ia mengucapkan selamat karena akhirnya aku menemukan kelas senyaman kelasku saat SD. Aku sedikit kagen, tapi lalu teringat aku sangat sering menceritakan teman-teman dan masa-masa SD-ku padanya. Sepertinya ia menyadari aku merasakan beberapa ketidaknyamanan saat SMP dan itu membuatku tidak terlalu suka masa SMPku. Padahal Riyan sendiri adalah bagian dari masa SMPku. Tapi ia adalah salah satu bagian yang terbaik. Aku bersungguh-sungguh.

Aku tetap melalui jalan di depan rumah lama Riyan setiap berangkat dan pulang sekolah. Seringkali keluarga Riyan berada di depan rumah dan aku hanya tersenyum ke arah mereka sementara ibu dan kakaknya meneriakiku untuk mampir.

Selulusnya dari SMA aku melanjutkan pendidikanku ke kota Yogya. Riyan tetap di Jawa Barat membantu usaha jahit pakaian milik bibinya. Sesekali kami bertukar kabar dan cerita. 

Pada 2014, pamanku dari jalur Bapak menikah, akhirnya setelah begitu lama. Istrinya ternyata adalah bibi Riyan dari jalur ibunya. Bapakku dan Ibu Riyan berasal dari daerah yang sama, pamanku dan bibi Riyan  entah bagaimana bertemu lalu menikah. Saat aku pulang kampung, Riyan sudah cembali menetap di rumah lamanya. Aku berkunjung dan ibunya sangat senang karena akhirnya kami bersaudara secara tidak langsung.

Desember 2014, aku memutuskan mampir pulang usai menghadiri resepsi pernikahan seorang kakak tingkat di kampus di Jakarta. Aku turun di tengah perjalanan, sementara bus rombongan melanjutkan perjalanan kembali ke Jogja. Saat itu musim hujan dan beberapa titik jalanan banjir, termasuk sepanjang jalan dari rumah lama Riyan hingga gang depan rumahku. Riyan sedang bermain dengan keponakan-keponakannya saat tanpa sengaja kami bertemu. Dia terkejut, tapi lalu menyapaku. Melihat tas ransel dan tas jinjing yang kubawa, dia mengambil sepeda lalu menawariku untuk menaruh barang-barangku di keranjang sepedanya, lalu mengajak serta keponakan-keponakannya untuk berjalan menemaniku sampai gang menuju rumahku. Aku menolak karena merasa terlalu merepotkan, tapi ia beralaoan memang hendak melihat-lihat banjir, hingga sejauh mana jalanan tergenang air. Bapak dan adikku mengajaknya mampir, tapi ia menolak dengan alasan hari sudah sore dan keponakannya harus segera mandi.

Melihat Riyan dan keponakan-keponakannya berjalan menjauh, ada sesuatu yang berat muncul di dadaku, dan mataku sedikit terasa panas. Aku merasa sedih atas takdir Riyan. Aku menemui banyak orang hebat dan pengalaman tak tergantikan, tapi Riyan hanya di sini, di kota kecil tempat kami lahir dan tumbuh. Malam itu, Mamaku menghiburku mengatakan bahwa kita tak berhak mengasihani orang lain. Karena aku juga tidak menemui orang-orang yang Riyan temui dan pengalaman-pengalaman lain yang ia lalui. Manusia yang bersyukur tidak boleh dikasihani. Kupikir mamaku benar.

Aku mengunjungi Riyan pada kepulanganku selanjutnya, yaitu pada libur akhir semester. Seperti biasa keluarganya sangat ramah padaku. Dan seperti selalu ibunya merasa tidak cukup memberi suguhan sampai beliau menawariku makan. Aku selalu nyaman berkunjung ke rumah ini. Tapi, aku sedikit terkejut dengan kondisi ibu Riyan. Beliau tampak sakit. Saat orang-orang pergi dan hanya ada aku dan Riyan, aku memberanikan diri bertanya. Riyan mengatakan bahwa ibunya memang sedang sakit dan memintaku membantu mendoakan kesembuhannya.

Riyan sering bercerita tentang nasihat-nasihat ibunya. Aku tahu ia sangat sedih dengan kondisi beliau saat itu. Riyan nyaris sepertiku yang mudah menceritakan banyak hal pada sosok Ibu, tipikal anak penurut apa nasihat orangtua. Aku mengalihkan obrolan dengan bercanda bertanya apakah ia berencana segera menikah. Ini hal umum di lingkungan masyarakatku, ketika seseorang tidak melanjutkan pendidikan dan tidak sedang mengejar karir, biasanya mereka memilih memfokuskan diri pada rencana pernikahan, atau  mencari pasangan paling tidak. Riyan berkata ia masih belum dewasa dan aku sangat percaya hal itu dari nada bicaranya pada ibunya yang masih semanja saat SMP.

Ketika aku pulang ke Yogya dengan beberapa perasaan tidak nyaman yang kubawa serta, Riyan menghiburku sepanjang perjalanan melaui SMS hingga aku memutuskan untuk tidur. Banyak sekali hutangku padanya meski aku tahu ia tak hendak menagihnya.

Pada kepulanganku yang terakhir --hanya dua hari di akhir pekan-- Aku tidak mengunjungi Riyan meski aku melewati rumahnya. Rumah itu tampak sepi. Aku hanya melihat ayah Riyan sedang berjalan di teras. Padahal biasanya selalu saja ada orang duduk-duduk di teras itu. Aku pulang kampung dan berangkat lagi tanpa mengabari Riyan.

Sepekan setelah itu adikku mengabarkan tentang kematian Ibu Riyan.

Aku sungguh terlalu tidak pernah melakukan apapun untuknya. Saat aku mengiriminya pesan ia mengatakan bahwa ibunya percaya ia dan adiknya sudah mampu hidup tanpa beliau. Riyan dengan segala kemanjaannya pada ibunya. Aku terkenang kebaikan hati Ibu Riyan, keramahannya, teriakannya saat melihatku melintas di depan rumahnya, banyak hal tentangnya. Aku menyesal tidak mengunjungi rumah itu saat kepulanganku yang terakhir. Aku bahkan tidak menelepon Riyan.

Sore setelah meninggalnya ibu Riyan aku bertemu beberapa teman SMA yang berkuliah di Jogja. Kami makan bersama dan saling bercerita tentang tentang hal-hal kecil dan lucu yang kami alami. Sejenak aku teringat Riyan. Aku bersama teman-temanku di sini dan Riyan degan kesedihannya seorang diri di sana. Kapankah kami pernah makan bersama seperti yang sedang aku lakukan? Satu-satunya momen makan bersama adalah saat syukuran kesembuhan Riyan enam tahun yang lalu. Aku semestinya berterimakasih pada ibu Riyan karena telah menjadi sebab dan perantara momen itu.