Welcome to My Site! may you find some good in these words
Tampilkan postingan dengan label Poeticside. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Poeticside. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 02 Januari 2021

Memaknai Puisi Tribute to Mother Karya John Greenleaf Whittier

Sebelum masuk ke pembahasan soal puisi di judul tulisan ini, ada satu kutipan yang menarik:

Photographs are just light and time..
-John Green, Turtles All the Way Down-
Tribute to Mother
by John Greenleaf Whittier 

A picture memory brings to me;
I look across the years and see
Myself beside my mother’s knee.
I feel her gentle hand restrain
My selfish mood, and know again
A child’s blind sense of wrong and pain.
But wiser now, a man gray grown,
My childhood’s needs are better known.
My mother’s chastening love I own.


Persembahan untuk Ibu
oleh John Greenleaf Whittier

Sebuah foto membawa kenangan padaku;
Melalui tahun-tahun dan terlihatlah itu
Diriku di samping lutut ibu.
Kurasakan tangannya yang kokoh menahan
Tingkah egoisku, dan pula menyadarkan
Ketidaktahuan bocah polos akan keburukan dan kesakitan.
Tapi kini aku, seorang lelaki kelabu tumbuh lebih bijak,
Lebih tahu kebutuhanku semasa kanak.
Cinta Ibu yang mendidik, kumiliki dengan layak.

Saya berusaha menerjemahkan puisi Whittier sesuai dengan struktur aslinya; stanza triplet, sebuah sajak tiga bait dengan rima berulang tiga baris. Tidak begitu tepat, menyadarkan saya, sekali lagi, sangat sulit menjadi seorang penerjemah.

Saya tidak memiliki referensi akademik atau profesional tentang makna puisi di atas. Sebagaimana catatan saya yang lain mengenai puisi, kali ini juga hanya akan tentang pemaknaan saya sendiri.

Pada bait pertama, 'aku' melihat sebuah foto, gambar dirinya kecil, di samping lutut ibunya.

Hanya dengan satu baris itu, saya langsung jatuh cinta dengan puisi ini. Ada kenangan yang mirip. Momen ketika pulang ke rumah dan membongkar album lama. Foto-foto masa kecil ketika baru belajar berjalan. Foto-foto duduk di samping ibu atau di atas pangkuannya. Ada perasaan seperti ditarik ke masa itu, melalui tahun-tahun yang berlalu. Bahkan melampaui ingatan saya sendiri. Saya tidak ingat momen yang terabadikan menjadi gambar-gambar itu, tapi Mama akan menceritakannya sambil bersama-sama memandangi foto satu demi satu.

Pada bait kedua, 'aku' seolah kembali ke masa itu, ditandai dengan penggunaan kata feel yang menunjukan present tense. 'Aku' merasakan kembali tangan ibunya yang mampu menahan dan mengendalikan dirinya.

Her gentle hand  mungkin lebih dari sekadar tangan sebagaimana harfiahnya. Ia juga bermakna kekuatan, sekaligus kasih sayang seorang ibu. Saya juga menyukai kata gentle di sana. Ibu, seorang perempuan, lemah lembut, tetapi juga kuat ketika berbicara tentang anak. Bukankah ibu kita sangat luar biasa? Madrasah pertama kita; Ibu. Tangannya begitu kuat menggendong, menimang, menitah.... Ah! kalau kita tak punya kenangan susah payahnya ibu semasa mengasuh kita, lihat saja para ibu sebelah rumah. Lihat bagaimana repotnya mengasuh bayi-bayi dan balita mereka. Yang moody, yang manja, yang hanya tahu menangis, tak memahami kesusahan orang tua. Itulah perasaaan yang muncul ketika membaca bait kedua.

Lalu bait terakhir, 'aku' kembali ke masa kini. Dirinya kini telah menjadi seorang lelaki dewasa, lelaki tua bahkan. Ia, dibandingkan dirinya di dalam foto, telah menjadi lebih bijaksana. Usia telah memberinya pengalaman dan pemahaman. Ia dapat memahami besarnya cinta ibunya. Ia dalam foto yang hanya tahu enak sendiri, tidak paham apa yang sesungguhnya dibutuhkanya. Tetapi ibu, ibu memahami semua.

Dan saat itulah, my mother's chastening love I own. Cinta yang chastening. Cinta yang tidak hanya soal menghujani kita dengan peluk cium dan kata-kata manis, tapi juga menegur ketika kita salah, menasihati ketika kita tak tahu arah, mengajari kita tentang baik dan buruk, benar dan salah. Itulah chastening love. 'Aku' telah memiliki hal itu dari ibunya.

Begitu juga saya.

Saya telah mendapatkan yang selayaknya dari seorang Ibu. Seandainya pun saya tak bisa memberikan yang selayaknya seorang anak kepada ibunya, semoga Allah memberikannya, di dunia dan di akhirat.


Selasa, 07 Januari 2020

Ratapan Christina Rossetti


Why were you born when the snow was falling?
You should have come to the cuckoo’s calling,
Or when grapes are green in the cluster,
Or, at least, when lithe swallows muster
For their far off flying
From summer dying

Kenapa kau lahir saat salju membuat langit bungkuk?
Andai saja kau tiba ketika musim dekut burung kukuk
Atau saat buah-buah anggur di tandan meranum hijau
Atau, setidaknya, saat kawanan burung camar berkicau
Sehabis menempuh perjalanan jauh yang ganas
Menyelamatkan diri dari serangan musim panas

Why did you die when the lambs were cropping?
You should have died at the apples’ dropping,
When the grasshopper comes to trouble,
And the wheat-fields are sodden stubble,
And all winds go sighing
For sweet things dying

Kenapa kau mati saat bulu-bulu domba dipangkas?
Andai saja kau pergi ketika buah-buah apel ranggas
Atau saat gerombolan belalang berubah jadi masalah
Dan ladang gandum semata hamparan jerami basah
Dan napas angis berembus sangat berat
Sebab semua hal indah tiba-tiba sekarat

A Dirge - Christina Rossetti
(diterjemahkan oleh M. Aan Mansyur/ @hurufkecil)



Banyak dari kita suka bertanya, saat seseorang yang masih muda meninggal dunia, terlebih jika itu seseorang yang kita pernah mengenalnya, pernah bersinggungan dengannya; 

Mengapa ia pergi?

Sulit untuk tidak bergumam, meski hanya dalam hati, ia masih begitu muda..

Kalian yang pernah mengalami, pasti memahami. Rasanya bercampuraduk. Apakah itu kesedihan, kehilangan, keterkejutan, atau sebenarnya hanyalah tumpukan ketakutan.. Sebab ternyata kematian itu datang begitu saja, begitu tiba-tiba.

Seperti lebih mudah jika yang pergi seorang renta; yahhh, ia memang sudah tua dan pesakitan. Tapi, kenyataan bahwa yang pergi dari dunia adalah seorang yang masih belia, begitu muda, dalam puncak kejayaannya. Saat harapan-harapan, cita-cita, dan impian melekat pada dirinya. Di hadapannya ada jalan-jalan. Sayangnya, ia tak memiliki waktu.

Seorang yang mati muda, seperti seseorang yang datang di musim yang buruk dan pergi justru saat musim membaik. Ia tak menikmati apapun. Lebih mudah andai ia datang saat musim membaik, memeroleh segala kebaikan dari masa itu, lalu pergi saat musim memburuk. Seseorang mungkin akan tetap merasa kehilangan, tapi setidaknya tidak ada yang akan menyesalinya, sebab memang tak ada lagi yang layak diharapkan dari masa itu, dan pula orang-orang tahu ia telah mendapatkan sesuatu saat pergi.

Mungkin hal itulah yang ingin diungkapkan Rossetti melalui puisinya di atas. Ia memilih kata-kata yang manis, juga perumpamaan yang manis. Saya sangat menyukai bagaimana Rossetti mampu mengungkapkan perasaan yang dalam melalui puisi-puisinya. Sayangnya, saya pikir, terlalu banyak ratapan, seandainya ia menggunakan kemampuannya itu untuk mengungkapkan perasaan-perasaan yang lebih positif, seperti syukur misalnya.

Adakah yang tahu pasti musim terbaik bagi seseorang?

Tidak ada seorang pun yang tahu apa pastinya yang telah diperoleh seseorang dalam hidupnya, baik singkat ataupun lama usianya dalam pandangan kita; manusia.

Bagi orang-orang terdekat yang ditinggalkan, mengikhlaskannya pergi bukan hal mudah. Mengikhlaskan bisa dimulai dengan tidak mempertanyakan takdir Tuhan meski dalam hati, cukup dengan perkataan; Sesungguhnya kita milik Tuhan, dan hanya kepada-Nya kita kembali.

Bagi orang-orang di luar lingkaran terdalam, mungkin beberapa merasakan kehilangan, kedukaan, tapi mungkin juga hanya seperti yang dideskripsikan Truman Capote dalam In Cold Blood; suatu sensasi horor yang dangkal, yang diperdalam oleh ketakutan pribadi (hal. 108).

Yang muda pun tidak terlepas dari bayang-bayang kematian.

Jumat, 20 Desember 2019

Rainbow Connection - Terjemah Bebas

RAINBOW CONNECTION

performed by: Kermit the Frog (Jim Henson) from The Muppet Movie
written by: Paul Williams & Kenneth Ascher

Why are there so many
Songs about rainbows
And what's on the other side
Rainbows are visions
They're only illusions
And rainbows have nothing to hide
 
Mengapa ada begitu banyak
lagu tentang pelangi
Dan apa yang ada pada sisi lainnya?
Pelangi adalah penglihatan,
tetapi ia hanyalah ilusi
Dan tak ada yang perlu pelangi sembunyikan

So we've been told
and some chose to believe it
But I know they're wrong
wait and see

Jadi, kita telah diberitahu tentang hal itu
Dan beberapa orang memilih untuk mempercayainya
Tetapi aku tahu mereka salah
Tunggu dan lihatlah..

Someday we'll find it
The Rainbow Connection
The lovers, the dreamers and me

Suatu hari nanti kita akan menemukannya
Koneksi pelangi
Para pecinta, pemimpi, dan aku

Who said that every wish
Would be heard and answered
When wished on the morning star

Siapakah gerangan yang mengatakan bahwa setiap harapan
Akan didengar dan dijawab
Manakala diucapkan pada Bintang Pagi

Somebody thought of that
And someone believed it
And look what it's done so far
What's so amazing
That keeps us star gazing
What so we think we might see

Seseorang berpikir akan hal itu
Dan seseorang mempercayainya
Dan lihatlah apa yang telah dilakukannya sejauh ini
Betapa menakjubkan
Hal itu membuat kita terus memandangi bintang-bintang
Apa yang sangat kita pikir mungkin kita lihat

Someday we'll find it
That Rainbow Connection
The lovers the dreamers and me

Suatu hari nanti kita akan menemukanya
Koneksi pelangi
Para pecinta, pemimpi, dan aku

Have you been fast asleep
And have you heard voices,
I've heard them calling my name,
Is this the sweet sound that calls
The young sailors,
The voice might be one and the same.
I've heard it too many times to ignore it
It's something that i'm supposed to be,

Sudahkah kau tertidur pulas
Dan sudahkah kau mendengar suara-suara itu?
Aku telah mendengar suara-suara itu memanggil namaku
Inikah suara manis yang memanggil
Para pelaut muda?
Suaranya mungkin satu dan sama
Terlalu amat sering kudengar untuk kuabaikan begitu saja
Ini adalah sesuatu yang seharusnya menjadi diriku

Someday we'll find it
The rainbow connection...
The lovers, the dreamers and me

Suatu hari nanti kita akan menemukannya
Koneksi pelangi
Para pecinta, pemimpi, dan aku


Sekitar tahun 2013, aku mengisi sebuah form bersama teman-temanku. Di form tersebut ada kolom nama kelompok. Dan kami tidak pernah memberi nama kelompok pertemanan kami. Sore itu, di teras masjid sekolah kami, hujan deras mulai mereda. Kami berpikir, "Perlukah kita membuat nama?"

Saat masing-masing kami tengah berpikir, salah seorang teman bertanya lirih, "Apakah akan muncul pelangi?" dan seketika itu kami bersepakat menamai kelompok kami Kafilah Pelangi. Lalu masing-masing mulai menghubung-hubungkan nama tersebut dengan makna-makna filosofis. Satu-satunya yang muncul di kepalaku, "Kenapa ada begitu banyak hal tentang Pelangi? Ini membosankan, tapi yahh bagus juga."

Jadi, lupakan tentang kelompok pertemanan kami yang sedikit alay itu (sepertinya anak remaja memang haus identitas diri sehingga kami sampai merasa perlu membuat nama kelompok, yang herannya, masih kami pakai tiap reuni ><), pada detik itu, detik saat di kepalaku muncul pertanyaan, kenapa ada begitu banyak hal tentang pelangi, aku menyadari apa yang dirasakan penulis lagu Rainbow Connection.

Ada banyak tafsiran bagus tentang kata Pelangi, misalnya "Pelangi muncul setelah hujan, jadi bersabarlah..." semacam bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian. Ada juga makna lainnya, seperti "Perbedaan itu indah, seperti Pelangi", dan banyak perumpamaan lainnya. Tapi lintasan pikiran yang dituangkan dalam Rainbow Connection sedikit berbeda, "Pelangi kan cuma ilusi optik. Dia semu. Tak nyata." Kira-kira begitulah tafsiran kasarnya dan mungkin itu juga alasan mengapa ada istilah "bercita-citalah setinggi bintang di langit" bukannya "bercita-citalah seindah pelangi". Setidaknya bintang nyata, bukan seperti pelangi yang semu.

Aku tidak tahu kisah Kermit the Frog, jadi aku tidak tahu kenapa dia memainkan banjonya sambil menyenandungkan Rainbow Connection, tapi sepertinya ia tengah menghadapi keraguan orang-orang (kalau bisa disebut orang) atas apa yang ia yakini. Tapi, hebatnya Kermit, keraguan orang lain tidak menggoyahkan keyakinannya. Jadi, seseorang bisa menganggap pelangi sebagai ilusi, dan seseorang yang lain bisa menganggapnya sebagai fenomena yang indah. Pada akhirnya kita tidak bisa menghakimi pelangi. Kita berhak memilih jalan menurut apa yang masng-masing kita yakini. Kalau kita yakin, maka jalani dan buktikan, I know they wrong, wait and see..

Dan begitulah, maka bagian utama lagu tersebut, someday we'll find it, the rainbow connection the lovers the dreamers and me, hanya bermakna sebagaimana adanya.

Kermit melanjutkan dengan bertanya retoris, "Siapa sih yang bilang, kalau setiap permohonan yang dipanjatkan pada Bintang Pagi pasti akan dikabulkan?" Sebetulnya orang-orang tahu bahwa hal tersebut hanya takhayul. Bintang Pagi tidak memiliki kemampuan untuk mengabulkan apapun, tapi masih kata Kermit, "Tapi lihat, apa yang sudah diperbuatnya sejauh ini. Betapa menakjubkan. Di luar apapun, Morning Star telah memberi harapan. Seseorang perlu harapan untuk menjauhkannya dari ke-putus-asa-an.

Dan yahh, pada bagian ini, aku snagat-sangat menentangnya. Bisa dipastikan Kermit ini bukan berakidah Islam. Fitrah manusia adalah bergantung. Ia lemah dan membutuhkan kekuatan lain di luar dirinya, dan itu adalah Tuhan. Keyakinan dan ketaatan kepada Allah swt. Tidak ada yang lain. Berharap pada selainNya adalah dosa besar. Lagipula alangkah bodohnya, menyandarkan harapan pada sesuatu yang jelas-jelas tidak mampu brbuat sesuatu.

Tapi pada intinya, Kermit ingin mengatakan pada kita, bahwa keyakinan adalah awal dari keberhasilan. Karena kita Muslim, seharusnya keyakinan itu memiliki nama lain; Doa. keyakinan kita pada Allah, doa-doa yang kita panjatkan kepada-Nya, menjadi penguat ikhiyar-ikhtiyar kita. Mungkin atau tidak mungkin, bisa atau tidak bisa, berhasil atau gagal, adalah hal lain yang tidak akan lagi kita pusingkan, karena kita telah mengerahkan semua yang mampu kita upayakan.

Lalu berlanjut pada bait terakhir, sesuatu tentang Pelaut. Awalnya, aku juga bingung dengan lompatan mendadak ini, tapi kemudian aku menemukan salah satu artikel wawancara dengan entah Williams atau Ascher, penulis lagunya, salah satu dari mereka mengatakan bahwa ia memiliki hasrat terpendam tentang menjadi Pelaut. Semacam cita-cita semasa kanak-kanak. Jadi, ia memasukkannya ke sana, ke dalam lirik lagu. Ia membuat Kermit menjadi seseorang yang ingin menajdi Pelaut. Bahwa menjadi pelaut adalah panggilan sejatinya. Seseorang memiliki sesuatu dalam dirinya. Kadang kala sesuatu itu tependam, lalu kadang kala muncul ke permukaan, suara hati yang memanggil-manggil.

Bukankah lagu yang manis?

Kecuali tentang Morning Star.

Oh ya, aku tidak menyangka aku juga akan sampai pada situasi seperti Kermit, baca di sini.

Rabu, 03 Oktober 2018

Hutan Pinus: Kenangan seorang Anak dan Ayah


PINE FOREST
by Gabriela Mistral
(Children Winner of Nobel Prize For Poetry)

Let us go now into the forest.
Trees will pass by your face,
and I will stop and offer you to them,
but they cannot bend down.
The night watches over its creatures,
except for the pine trees that never change:
the old wounded springs that spring
blessed gum, eternal afternoons.
If they could, the trees would lift you
and carry you from valley to valley,
and you would pass from arm to arm,
a child running
from father to father.


Jumat, 06 Januari 2017

Kalau Kau Tua

WHEN YOU ARE OLD

by William Butler Yeats (1865-1939)

When you are old and grey and full of sleep, 
And nodding by the fire, take down this book, 
And slowly read, and dream of the soft look 
Your eyes had once, and of their shadows deep; 

How many loved your moments of glad grace, 
And loved your beauty with love false or true, 
But one man loved the pilgrim soul in you, 
And loved the sorrows of your changing face; 

And bending down beside the glowing bars, 
Murmur, a little sadly, how Love fled 
And paced upon the mountains overhead 
And hid his face amid a crowd of stars.


Ada alasan tak bertanggungjawab mengapa saya menyukai puisi, ialah karena tak ada konsekuensi apapun setelah membaca dan menafsirinya. Sebenarnya hal ini tidak hanya berlaku untuk puisi, tapi juga karya sastra lainnya. Apakah seseorang menjadi lebih bijaksana setelah selesai membaca novel?

Bisa jadi.

Bisa juga tidak.

Puisi pun demikian.

Karya sastra tidak lain adalah hasil pemikiran manusia. Maka seperti apa pribadi penulisnya, apa nilai-nilai yang dianutnya, seperti itu pulalah kebanyakan muatan tulisannya. Jika Anda menyukainya, Anda bisa mengambilnya sebagai pelajaran. Jika tidak, Anda hanya perlu menyingkirkannya dari hadapan Anda.

Jikapun ada pelajaran, ada hikmah, ada kebijaksanaan umum yang terkandung di dalam suatu karya sastra, kita masih bisa memilih, untuk sekadar menyimpannya sebagai kata mutiara, atau mengambilnya sebagai pengajaran dalam hidup.

(Hal ini berbeda dengan Al Quran dan Hadits, jangan coba-coba menafsiri sesuka hati, dan jangan coba mengambil hukum atas dasar keduanya secara sepotong-sepotong, tanpa melihat bagian sebelum atau sesudahnya. Pula, dalam hal membaca dan mempelajari keduanya, tidak ada pilihan bagi seorang Muslim yang baik, kecuali berusaha mengamalkannya sebaik mungkin. Inilah maksud saya bilang alasan tak bertanggungjawab dalam menyukai puisi).

Tentang menafsiri puisi sesuka hati. Saya yakin, setiap puisi memiliki satu makna yang ingin disampaikan oleh penulisnya. Tapi saya sebagai pembacanya, bisa jadi akan menangkap makna tersebut atau bisa juga tidak, malah kadang memikirkan makna yang lain, tergantung latar belakang saya. Karena itu saya memutuskan untuk menafsiri puisi sesuka saya...

Seperti puisi W. B, Yeast di awal tulisan, When You are Old, entah bagaimana, ketika dulu saya pertama kali membacanya, saya merasa bahwa one man loved the pilgrim soul in you/ And loved the sorrows of your changing face adalah orangtua kita. Mungkin saja, itu karena saya sedang kangen rumah ketika itu. Meskipun tidak tepat, tapi tidak ada dosa kan menafsiri puisi sepotong-sepotong tanpa melihat kesudahan ataupun larik sebelumnya?

Dream of the soft look , Your eyes had once, and of their shadows deep,
Bayangkan tatapan lembut yang dahulu milik matamu juga, yang berlekuk begitu dalam

Saat itu saya hanya berpikir, mata saya terlihat seperti mata ayah saya. Jika ada tatatpan lembut yang harus saya kenang, itu adalah tatapan kasih kedua orangtua saya.

Saya pikir, jika nanti saya mencapai masa tua, saya harus tetap mengenang kedua orangtua saya dengan baik, cinta kasih tulus mereka, lelah yang mereka tanggung untuk kita, their shadows deep, dan penerimaan tanpa penolakan akan diri kita apa adanya, yang tidak hanya loved your moments of glad grace.

Jika nanti Tuhan mengizinkan kita mencapai usia tua, dan orang-orang tak lagi mengagumi segala keindahan yang ada pada diri kita di masa muda, Murmur, a little sadly, how Love fled/ And paced upon the mountains overhead/And hid his face amid a crowd of stars.

Mungkin puisi itu ingin menyampaikan, bahwa apa yang ada pada diri kita saat ini, seringkali tidaklah hakiki. Kita mungkin menerima banyak cinta saat ini, entah itu cinta palsu ataupun sejati....


Kalau Kau Tua


kalau kau tua, lusuh, dan pengantuk
terkantuk-kantuk di samping perapian, ambil buku ini
baca pelan-pelan dan khayalkan sebuah tatapan lembut
yang dahulu milik matamu juga, yang berlekuk begitu dalam

berapa banyak yang pernah mengagumi saat-saat ceriamu
dan mencintai kemolekanmu dengan genggam cinta murni atau palsu
namun bagi putih jiwamu hanya seorang yang mencintai
hingga ujung duka derita di wajahmu yang tak muda lagi

sambil membungkuk di samping api membara
gumamkan sedikit sedih, bagaimana cinta pun terbang
dan melayang di atas gunung tinggi jauh di sana
dan menyembunyikan mukanya di antara rimbun bintang

Rabu, 02 Maret 2016


Jumat, 29 Januari 2016

Seribu Mentari Surga Bagiku

KABUL

(Translated by Dr. Josephine Davis)

Ah! How beautiful is Kabul encircled by her arid mountains
And Rose, of the trails of thorns she envies
Her gusts of powdered soil, slightly sting my eyes
But I love her, for knowing and loving are born of this same dust

My song exhalts her dazzling tulips
And at the beauty of her trees, I blush
How sparkling the water flows from Pul-I-Bastaan!
May Allah protect such beauty from the evil eye of man!

Khizr chose the path to Kabul in order to reach Paradise
For her mountains brought him close to the delights of heaven
From the fort with sprawling walls, A Dragon of protection
Each stone is there more precious than the treasure of Shayagan

Every street of Kabul is enthralling to the eye
Through the bazaars, caravans of Egypt pass
One could not count the moons that shimmer on her roofs
And the thousand splendid suns that hide behind her walls

Her laughter of mornings has the gaiety of flowers
Her nights of darkness, the reflections of lustrous hair
Her melodious nightingales, with passion sing their songs
Ardent tunes, as leaves enflamed, cascading from their throats

And I, I sing in the gardens of Jahanara, of Sharbara
And even the trumpets of heaven envy their green pastures

                                                     
Saib-e-Tabrizi 17th Century


Siapapun yang pernah membaca novel Seribu Mentari Surga karya Kholed Hosseini pasti tidak asing pada sebagian baris puisi di atas. Judul novel tersebut memang terilhami dari puisi ini. Aku sendiri tertarik pada puisi "Kabul" setelah membaca novel Seribu Mentari Surga. Aku bilang ini puisi yang cantik. Sangat cantik. Salah satu puisi yang paling kusuka.

Lima tahun lalu, Mama tertawa saat aku menunjukkan bagian encircled by her arid mountains. Aku juga ikut tertawa. Tidak ada puisi yang memuji alam Indonesia yang berbunyi gunung gersang ataupun jalan tanah berdebu. Semua bicara tentang alam menghijau, laut biru, tanah surga, yah... hal-hal semacam itu. Tapi, sepertinya aku mengerti, for knowing and loving are born of this same dust.

Pagi berkabut musim kemarau

Senja menjelang musim tanam

Seperti apapun Kampung Halaman kita, kita mencintainya. Aku memikirkan masa-masa SMP-ku, saat teman-teman suka membercandai memanggilku dengan plesetan nama daerahku; banjir, jembatan gantung, dan apapun yang bisa digunakan untuk mengejekku. Bahkan jika sekarang nongkrong bersama teman-teman SMA, kami masih suka saling menjelek-jelekkan daerah satu sama lain. Sebaliknya, membagus-baguskan daerah masing-masing. Memikirkan ulah kekanak-kanakan kami itu, aku menyadari, masing-masing kami mencintai kampung halaman kami.

Aku sendiri. Selalu suka rumahku. Kampung halamanku. Tempatku dilahirkan. Tempatku tumbuh dan diasuh dalam cinta keluargaku. Tanahnya adalah yang pertama kuinjak. Udaranya adalah yang pertama kuhirup. Terlalu banyak pengajaran yang kuterima di sini. Terlalu banyak hal pertama kulakukan di sini. Dan segala yang pertama selalu istimewa. Meski Mama selalu bilang, dunia ini luas, dan di manapun kamu, itu adalah bumi Allah. Tapi, bahkan Rasulullah saw pun merindukan Mekkah....

Sejauh apapun tempatku kini berdiri. Aku selalu suka Kampung Halamanku. Aku bersyukur, karena aku masih bisa pulang mengunjunginya. Aku tidak tahu bagaimana di wilayah konflik sana, kampung halaman mereka tak pernah lagi sama seperti dulu.

"maka, nikmat Tuhanmu yang mana lagi yang kamu dustakan?"

Ah! Betapa cantiknya Kabul
Dikelilingi oleh gunung-gunung gersang
Dan mawar, dari jalan-jalan kecil dari duri ia iri
Hembusan tanah berdebunya
sedikit menyengat mataku
Akan tetapi. aku mencintainya
karena mengenal dan mencintai terlahir dari debu yng sama ini

Sajakku menyanjung tulip-tulipnya yang memesona
Dan pada keindahan pepohonan, aku malu
Bagaimana gemericik air mengalir dari Pul-i-Bastaan!
Semoga Allah menjaga keindahannya
dari mata jahat manusia

Khizr memilih jalan setapak ke Kabul untuk mencapai surga
Karena gunung-gunung membawanya mendekat pada kebahagiaan surga
Dari benteng dengan dinding yng luas
Seekor naga perlindungan
Tiap batu adalah lebih berharga dari kekayaan Shayagan

Setiap jalan Kabul memikat mata
Sepanjang bazar-bazar
karavan-karavan Mesir yang melintas
Tak seorangpun dapat menghitung cahaya bulan
yang berpendar di atas atap
Atau pun seribu mentari surga
yang bersembunyi di balik dindingnya

Tawa paginya membawa keceriaan bunga-bunga
Malam-malam gelapnya
Bagai pantulan rambut yang berkilauan
Merdunya burung bul-bul
dengan hasrat menyenandungkan lagu mereka
Nada-nada yang teratur
bagaikan dedaunan yang bergelora
mengalun dari tenggorokan mereka

Dan aku, aku bersenandung di kebun-kebun
Jahanara, Sharbara
Dan bahkan terompet-terompet surga
mencemburui padang rumput nan hijau mereka

Kamis, 28 Januari 2016

Tentang Diri

Malam ini
Rahmat-Nya mencumbu muka bumi
Dan segala luka menggumam cinta:
Jangan berhenti

Malam ini
Rahmat-Nya menebar wangi kesturi
Tinggal tetes di halaman
Melagukan tik tik tik harapan
Apa kabar iman?

Malam ini seorang hamba dalam doa:
Ya Rabbi
Ridlo-Mu
Jalanku
Ya Tuhanku

Dan rintih seorang hamba
Purna di pelataran doa

(di rumah, di tengah keluarga, di suatu malam, di tahun 2014)

Sabtu, 02 Januari 2016

IF - Terjemah Bebas

IF
by Rudyard Kipling

If you can keep your head when all about you
Jika kau dapat menjaga pikiranmu ketika orang-orang  di sekitarmu
Are losing theirs and blaming it on you
Kehilangan pikiran mereka dan menyalahkanmu
If you can trust yourself when all men doubt you
Jika kau dapat memercayai dirimu ketika semua orang meragukanmu
But make allowance for their doubting too
Tetapi engkau tetap memberi ruang bagi keraguan mereka padamu
If you can wait and not be tired by waiting
Jika kau dapat menunggu dan bersabar
Or, being lied about, dont deals in lies
Atau dibohongi, jangan biarkan dirimu berdamai dengan kebohongan
Or being hated, dont give way to hating
Atau dibenci, jangan beri dirimu jalan untuk menbenci
And yet dont look too good, nor talk too wise
Dan jangan mencoba untuk terlihat terlampau baik, ataupun berbicara terlampau bijak



Senin, 07 Desember 2015

Sepenggal Makna Kebersamaan

Sepenggal makna kebersamaan ini
Mengajarkan tentang kebahagiaan
Hadir di sela-sela kepahitan
Mengusap airmata dengan canda ceria

Sepenggal makna kebersamaan ini
mengajarkan tentang penyesalan
Sepotong kata maaf
Atas caci maki dan hujatan

Sepenggal makna kebersamaan ini
Mengajarkan tentang pengorbanan
Susuri setapak berkerikil
Jalan panjang perjuangan
Menjemput cahaya, cinta dan kasih sayang

Sepenggal makna kebersamaan ini mengajarkan tentang ukhuwah
Mengikat hati, meyatukan tujuan
Meski kan tiba hari
Kebersamaan ini sepotong kenangan
Indah, menguatkan
29/10/2012 10.21pm


Jumat, 10 April 2015

His Name is Today - Ia Hanya Tahu Hari Ini

His Name is Today
Gabriela Mistral
(Children Winner of Nobel Prize For Poetry)

We are guilty of many errors and many faults
But our worst crime is abandoning the children
Neglecting the fountain of life
Many of the things we need can wait
The child cannot
Right now is the time his bones are being formed
His blood is being made
And his senses are being developed
To him we cannot answer, “Tomorrow.”
His name is, “Today.”