Welcome to My Site! may you find some good in these words

Sabtu, 02 Januari 2021

Memaknai Puisi Tribute to Mother Karya John Greenleaf Whittier

Sebelum masuk ke pembahasan soal puisi di judul tulisan ini, ada satu kutipan yang menarik:

Photographs are just light and time..
-John Green, Turtles All the Way Down-
Tribute to Mother
by John Greenleaf Whittier 

A picture memory brings to me;
I look across the years and see
Myself beside my mother’s knee.
I feel her gentle hand restrain
My selfish mood, and know again
A child’s blind sense of wrong and pain.
But wiser now, a man gray grown,
My childhood’s needs are better known.
My mother’s chastening love I own.


Persembahan untuk Ibu
oleh John Greenleaf Whittier

Sebuah foto membawa kenangan padaku;
Melalui tahun-tahun dan terlihatlah itu
Diriku di samping lutut ibu.
Kurasakan tangannya yang kokoh menahan
Tingkah egoisku, dan pula menyadarkan
Ketidaktahuan bocah polos akan keburukan dan kesakitan.
Tapi kini aku, seorang lelaki kelabu tumbuh lebih bijak,
Lebih tahu kebutuhanku semasa kanak.
Cinta Ibu yang mendidik, kumiliki dengan layak.

Saya berusaha menerjemahkan puisi Whittier sesuai dengan struktur aslinya; stanza triplet, sebuah sajak tiga bait dengan rima berulang tiga baris. Tidak begitu tepat, menyadarkan saya, sekali lagi, sangat sulit menjadi seorang penerjemah.

Saya tidak memiliki referensi akademik atau profesional tentang makna puisi di atas. Sebagaimana catatan saya yang lain mengenai puisi, kali ini juga hanya akan tentang pemaknaan saya sendiri.

Pada bait pertama, 'aku' melihat sebuah foto, gambar dirinya kecil, di samping lutut ibunya.

Hanya dengan satu baris itu, saya langsung jatuh cinta dengan puisi ini. Ada kenangan yang mirip. Momen ketika pulang ke rumah dan membongkar album lama. Foto-foto masa kecil ketika baru belajar berjalan. Foto-foto duduk di samping ibu atau di atas pangkuannya. Ada perasaan seperti ditarik ke masa itu, melalui tahun-tahun yang berlalu. Bahkan melampaui ingatan saya sendiri. Saya tidak ingat momen yang terabadikan menjadi gambar-gambar itu, tapi Mama akan menceritakannya sambil bersama-sama memandangi foto satu demi satu.

Pada bait kedua, 'aku' seolah kembali ke masa itu, ditandai dengan penggunaan kata feel yang menunjukan present tense. 'Aku' merasakan kembali tangan ibunya yang mampu menahan dan mengendalikan dirinya.

Her gentle hand  mungkin lebih dari sekadar tangan sebagaimana harfiahnya. Ia juga bermakna kekuatan, sekaligus kasih sayang seorang ibu. Saya juga menyukai kata gentle di sana. Ibu, seorang perempuan, lemah lembut, tetapi juga kuat ketika berbicara tentang anak. Bukankah ibu kita sangat luar biasa? Madrasah pertama kita; Ibu. Tangannya begitu kuat menggendong, menimang, menitah.... Ah! kalau kita tak punya kenangan susah payahnya ibu semasa mengasuh kita, lihat saja para ibu sebelah rumah. Lihat bagaimana repotnya mengasuh bayi-bayi dan balita mereka. Yang moody, yang manja, yang hanya tahu menangis, tak memahami kesusahan orang tua. Itulah perasaaan yang muncul ketika membaca bait kedua.

Lalu bait terakhir, 'aku' kembali ke masa kini. Dirinya kini telah menjadi seorang lelaki dewasa, lelaki tua bahkan. Ia, dibandingkan dirinya di dalam foto, telah menjadi lebih bijaksana. Usia telah memberinya pengalaman dan pemahaman. Ia dapat memahami besarnya cinta ibunya. Ia dalam foto yang hanya tahu enak sendiri, tidak paham apa yang sesungguhnya dibutuhkanya. Tetapi ibu, ibu memahami semua.

Dan saat itulah, my mother's chastening love I own. Cinta yang chastening. Cinta yang tidak hanya soal menghujani kita dengan peluk cium dan kata-kata manis, tapi juga menegur ketika kita salah, menasihati ketika kita tak tahu arah, mengajari kita tentang baik dan buruk, benar dan salah. Itulah chastening love. 'Aku' telah memiliki hal itu dari ibunya.

Begitu juga saya.

Saya telah mendapatkan yang selayaknya dari seorang Ibu. Seandainya pun saya tak bisa memberikan yang selayaknya seorang anak kepada ibunya, semoga Allah memberikannya, di dunia dan di akhirat.


Sabtu, 28 Maret 2020

Am I Chasing Rainbow?



Lagu Rainbow Connection yang pertama kali kudengar adalah versi Jason Mraz (sampai tahun 2017 aku tidak tahu kalau lagu ini berasal dari The Muppet Movie dan berpikir bahwa ia merupakan salah satu dari sekian lagu non-album Jason Mraz yang bahkan tidak memiliki versi studio). Jadi, lirik yang mulanya kukenal adalah versi lompatan. Ya, liriknya melompat dari Rainbows have nothing to hide langsung menuju ke What's so amazing that it keeps us stargazing. Dan, kupikir itu versi yang lebih baik daripada aslinya, meskipun jelas-jelas mengacaukan ceritanya. Setidaknya, tidak ada bagian ...every wish would be heard and answered when wished on the morning star.

Tapi bukan untuk membahas hal itu niat awalku membuat tulisan ini.

Pertama kali mendengar lagu Rainbow Connection, mungkin sekitar  tahun 2009. Lirik yang tidak utuh dan bahasa inggris yang kacau, tidak banyak hal yang bisa aku pahami dari lagu yang belakangan aku dengar katanya lullaby itu. Aku bertanya-tanya bagaimana Rainbow keeps us stargazing? Memangnya ada pelangi di malam hari? Dan bukannya stargazing itu ngelihatin bintang? Apa hubungannya dengan pelangi?

Meski tak paham maksud keseluruhannya dan salah memaknai kata it dalam salah satu bagian liriknya, aku menyukai bagian per bagian dari lagu tersebut. Aku menyukai bagaimana lagu itu justru diawali dengan bertanya mengapa ada banyak lagu tentang pelangi padahal pelangi itu sebenarnya hanya ilusi optik. Meski indera penglihatan kita bisa menangkapnya, tapi kita tahu ia bukan semacam materi padat yang berdiri sendiri. Kenyataannya adalah ia (atau mereka) adalah kumpulan besar partikel air dan cahaya. Bagaimanapun kita berusaha, kita tidak akan bisa menjangkau pelangi. Mentok kita bisa menjangkau partikel air yang terbias cahaya itu.

Bertahun berlalu. Saat aku bukan penikmat aneka lagu, entah bagaimana aku menemukan kalau penyanyi asli Rainbow Connection ini justru si Kermit The Frog. Penemuan ini sekaligus menjawab kebingungan lama yang sebenarnya sudah lama aku lupa dan tidak kupedulikan; maksud keseluruhan dari liriknya. Dan aku cuma berpikir, "Lullaby yang berat.."

Aku tidak tahu kenapa Rainbow Connection muncul kembali di kehidupanku (Waw, alay sekali), lebih tepatnya kenapa aku mendengarkan Rainbow Connection lagi, tapi anehnya aku merasa lagu ini seolah memang untukku. Aku tidak sedang menghadapi keraguan orang lain terhadapku, sebaliknya, aku tengah menghadapi keraguan diriku sendiri. Tiba-tiba, aku ingin memiliki sedikit saja keyakinan Kermit. Tapi, ternyata hal itu sangat sulit. Di kehidupan nyata, hal itu sungguh sulit. Meski begitu aku tidak akan mengatakan tidak mungkin.

Aku bertanya-tanya apakah mengejar cita-cita adalah pilihan terbaik di tengah segala situasi dan kondisiku saat ini?

Aku tidak tahu apakah yang kukejar ini adalah pelangi atau bintang? Keduanya indah, bukan? Tapi kita tahu bintang nyata sedangkan pelangi tidak. Aku tidak keberatan bersusah payah untuk mencapai bintang yang tinggi itu, tapi bagaimana jika ternyata yang kukejar adalah pelangi? Sementara waktu terus berjalan, aku telah melewatkan berbagai kemungkinan dan kesempatan lain untuk mengejar hal itu, sesuatu yang saat ini mungkin paling tepat kuberi nama cita-cita (?)

Sebenarnya, aku anggota tim Percaya Takdir. Aku tahu dan percaya bahwa takdir setiap manusia telah selesai ditulis, bahkan sejak 50.000 tahun sebelum langit dan bumi diciptakan, termasuk takdirku. Dan setiap orang akan dimudahkan jalannya menuju takdirnya.

"Allah telah menulis takdir setiap makhluk sejak 50.000 tahun sebelum penciptaan langit dan bumi." (HR. Muslim No. 2653)

"Beramallah kalian! Sebab semua telah dimudahkan terhadap apa yang diciptakan untuknya." (HR. Bukhari)

"Tiada bencana yang menimpa di bumi dan tidak (pula) pada diri kalian sendiri kecuali telah tertulis pada Kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Yang demikian itu ) supaya kamu tidak bersedih hati terhadap apa yang luput darimu dan jangan pula terlalu gembira terhadap apa yang Dia berikan kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong dan membanggakan diri.” (QS. Al Hadid: 22-23)

Aku juga tahu ketidaktahuan kita terhadap apa yang akan menimpa diri kita, dengan diikuti kenyataan bahwa apapun itu yang akan menimpa kita telah ditetapkan oleh Tuhan, dan Dia tidak sedang melempar dadu atas kehidupan kita, dan bahwa yang menetapkan takdir itu adalah Tuhan yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, yang bahkan jika kita berjalan mendekati-Nya, Dia akan berlari menjemput kita, seharusnya mampu membuat diri kita tenang, tidak terlampau bersedih hati maupun terlalu bergembira. Menghadapi segalanya dengan penuh kesyukuran dan kesabaran. Betapa sebuah kebahagiaan dalam hidup ini!

Selain itu, kita tahu, ada satu mesin pengubah takdir, ialah DOA. Dan tidak seorang pun yang memiliki iman yang baik, kecuali ia akan mengiringi doa-doanya dengan ikhtiar, dengan amal perbuatan, usaha yang nyata. Lalu menyerahkan apapun hasilnya pada kehendak-Nya. Itulah tawakal. Aku yakin orang itu akan menjalani hidupnya tanpa kegelisahan akan nasib dirinya.

Pertanyaannya, mengapa aku tidak demikian? 

Masalahnya kemudian adalah, pada titik ini, pada momen ini, aku menyadari sisi buruk diriku.

-

-

-

-

Jika doa adalah mesin pengubah takdir, bukankah seharusnya aku shalat dengan baik? Aku tidak berpikir telah cukup baik tentang shalatku. Padahal aku juga termasuk anggota tim Percaya Kekuatan Doa. Sebuah ironi yang aku bikin sendiri. Lalu aku sedihkan sendiri.

Bahkan seandainya kita tidak berdoa, dan katakanlah, hanya memasrahkan segalanya pada apa yang telah tertulis, bukankah kita masih harus beramal? Bahkan takdir, bukanlah sesuatu yang berdiri sendiri, mengikat bersamanya adalah Hukum Sebab-Akibat.

Ketika aku flashback kembali pada hari-hariku yang telah lalu, aku menemukan betapa banyak saat aku menjalani aktivitasku dengan tidak disertai kesungguhan. Betapa banyak hal yang kuperbuat tanpa mengupayakan yang terbaik dari diriku.

Aku mungkin tidak akan mendapat hasil yang lebih baik, tapi setidaknya, aku tahu bahwa aku telah menggugurkan bagian sebab yang negatif sebelum memperoleh akibat, “sebab aku kurang bersungguh-sungguh, akibatnya hanya inilah hasil yang kuperoleh, tidak cukup banyak untukku merasa percaya diri”.

Dengan sebab kesungguhan, setidaknya aku akan lebih mampu menghargai diriku dan berkata, “Barakallah, diriku! Kamu telah berusaha dengan baik.”

Tapi dengan begitu banyak kekurangsungguhan, masihkah aku kebagian barakah?

Untuk hal-hal yang belum terjadi aku bertanya, “am I chasing rainbow?” dan bersedih. 

Dan, pada saat aku menyadari bahwa jawabannya tidak bisa kujawab sendiri, Dia memberikan jawaban melalui lisan seseorang, “Bahkan ketika kamu tidak tahu apakah akan berhasil atau tidak, kamu tahu bahwa kamu tidak sedang mengupayakan sesuatu yang buruk, bukan? Selagi kamu tahu itu baik, dan kedua orangtuamu meridloimu, insya Allah Dia pun ridlo. Selanjutnya adalah, apakah kamu akan ridlo pada apapun ketetapan-Nya nanti?”

Lalu, sampai kapankah aku harus mengupayakannya? Apakah tanda untuk berhenti? 

Bukankah kamu belum lelah? Kenapa berbicara tentang berhenti ketika dalam hatimu masih ingin melanjutkan? Mari kita bicara tentang “berhenti” ketika “ingin” itu telah muncul dalam dirimu.”

Bagaimana jika yang muncul bukan “ingin”, tapi hanya “ragu”?

“Karena setiap kita akan dimudahkan jalan menuju takdir kita, jika sesuatu itu bukan bagian dari takdirmu, Dia akan memalingkan hatimu pada sesuatu yang menjadi jalanmu, entah dengan cara apa. Mungkin kesempatan-kesempatan lain yang biasanya kamu acuhkan, tiba-tiba begitu menarik hatimu. Atau, sesuatu hal lain yang tidak pernah terlintas, begitu saja muncul dan kamu tidak dapat berbuat kecuali mengikutinya. Kita tidak tahu. Maka, selagi hatimu masih belum berpaling dari sesuatu itu, yakini saja sesuatu itu mungkin takdirmu. Sekarang, terlepas dari modal awal yang kamu miliki, upayakan sebab terbaik untuk menjemput takdir itu.” 

Pada akhirnya, aku percaya pada takdir Tuhan. Seperti juga aku percaya bahwa kehidupan yang tenang hanya berlaku bagi orang dengan keimananan yang baik. Dan ia yang beriman dengan baik akan berdoa dengan baik dan melakukan segala amalnya dengan totalitas dirinya. Ia akan menjalani hidupnya tanpa penyesalan.

Dan kupikir, Kermit adalah salah satu yang melakukan amalnya dengan sungguh-sungguh (meskipun sepertinya ia bukan anggota tim Percaya Takdir dan Kekuatan Doa). Lihatlah kepercayaan dirinya dalam Rainbow Connection! 






Rabu, 18 Maret 2020

Bahkan Kita Tidak Merasa Aman untuk Sekadar Bernapas

Seberapa sering kita menyusun rencana, tapi seketika digagalkan oleh takdir?


Ilustrasi 3D sars-cov-2. Gambar diambil dari Forbes

Aku menghitung gaji bulananku, berpikir akan menyisihkan sekian persen tiap bulan sehingga pada awal Juni aku akan memiliki sekian rupiah yang akan kugunakan untuk suatu hal.

Teman kamarku memesan penginapan untuk kedua orangtuanya jauh hari sebelum wisudanya pada pertengahan April, sebuah upaya mendapat tempat di dekat kampus dengan harga miring.

Temanku yang lain berencana menyelenggarakan resepsi pernikahan pada akhir Maret tahun ini dan mulai menyebar undangan H-14 hari.

Anak-anak panduanku di asrama berencana pulang ke rumah mereka (yang mayoritas di luar Jawa) saat libur Ujian Nasional. Mereka merengek agar diijinkan pulang sejak hari Jumat sebelum pekan UN.

Yang terjadi..

Sejak Senin lalu, satu per satu anak-anak meninggalkan asrama. Kini, Rabu, hanya tersisa tiga anak, mereka yang memutuskan, lebih tepatnya diputuskan oleh orangtua mereka, untuk menetap di asrama. Wabah Covid-19 ulah Sars-Cov-2 menjadi alasan dilaksanakannya program belajar di rumah. Meskipun, pihak sekolah dan asrama menyarankan anak-anak tidak dibiarkan pulang sendiri dengan kendaraan umum, dan lebih baik menetap di asrama, mereka tetap pulang. Sebagian ke rumah sanak saudara di Jawa, sebagian dijemput orangtua dengan kendaraan pribadi, dan sebagian kecil, dengan diiringi bismillah, pulang sendiri dengan kendaraan umum.

Dengan alasan yang sama, Covid-19, wisuda kawanku ditunda hingga waktu yang belum bisa ditentukan. Sedangkan pernikahan kawanku yang lain sepertinya harus mencukupkan dengan akad dan menunda resepsi hingga wabah mereda. Dan aku? Sepertinya pendapatan bulananku menurun karena jadwal mengajar ikut libur seiring wabah yang mulai menyebar. Demikian, sekian rupiah di bulan Juni sepertinya harus kupikirkan ulang. Juga kami mempersiapkan diri untuk melalui Ramadhan dan Idul Fitri tanpa keluarga tercinta..

Pandemi global ini pasti telah mengubah sangat banyak rencana yang disusun manusia...

Sejujurnya, selain berharap wabah ini segera mereda supaya tidak bertambah lagi korban, aku juga berharap simulasi yang menyatakan bahwa puncak wabah akan terjadi pada bulan Ramadhan tidak menjadi kenyataan, sehingga bulan Ramadhan dan Idul Fitri akan tetap semeriah tahun-tahun yang sudah. Seumur hidupku, aku tinggal di negara dengan Muslim sebagai mayoritas penduduknya. Banyak di antara mereka bukan Muslim yang taat, tapi tetap saja Ramadhan tidak pernah berlalu sebagai bulan yang biasa-biasa saja, dan Idul Fitri selalu penuh kegembiraan, bahkan meski dalam suasana banjir seperti pada tahun 2005.

Karena iman kami yang masih amat lemah, sehingga tidak bisa beribadah sama khusyuknya dalam apapun keadaannya, aku mengharapkan Ramadhan yang jauh dari isu wabah. Saat Ramadhan tiba, orang-orang tak lagi khawatir soal Covid-19 dan hanya khawatir tentang target-target ibadahnya, semoga.

Di sisi lain, aku memikirkan, apakah ini perasaan Saudara-Saudari kami di wilayah konflik? Setiap saat adalah teror.

*****

Pada awal Februari, aku masih mendengar orang-orang berbincang tentang virus ini, berkata seolah orang Indonesia kebal dan reseptor virus tersebut hanya ada pada orang-orang Chinese dan Kauka. Pada awal Maret, masih aku dengar orang-orang berbicara dalam nada meremehkan bahwa virus ini hanya seperti flu biasa, sedikit lebih berat, tapi tidak berbahaya, selama daya tahan tubuh kita baik. Beberapa menjadikan virus ini sebagai bahan candaan. Hari ini, semua orang memandangi update berita Covid-19 di Indonesia.

Memang selamanya, keangkuhan meskipun sedikit, tidak pernah menempati tempat yang sama dengan kata baik.

Selasa, 07 Januari 2020

Ratapan Christina Rossetti


Why were you born when the snow was falling?
You should have come to the cuckoo’s calling,
Or when grapes are green in the cluster,
Or, at least, when lithe swallows muster
For their far off flying
From summer dying

Kenapa kau lahir saat salju membuat langit bungkuk?
Andai saja kau tiba ketika musim dekut burung kukuk
Atau saat buah-buah anggur di tandan meranum hijau
Atau, setidaknya, saat kawanan burung camar berkicau
Sehabis menempuh perjalanan jauh yang ganas
Menyelamatkan diri dari serangan musim panas

Why did you die when the lambs were cropping?
You should have died at the apples’ dropping,
When the grasshopper comes to trouble,
And the wheat-fields are sodden stubble,
And all winds go sighing
For sweet things dying

Kenapa kau mati saat bulu-bulu domba dipangkas?
Andai saja kau pergi ketika buah-buah apel ranggas
Atau saat gerombolan belalang berubah jadi masalah
Dan ladang gandum semata hamparan jerami basah
Dan napas angis berembus sangat berat
Sebab semua hal indah tiba-tiba sekarat

A Dirge - Christina Rossetti
(diterjemahkan oleh M. Aan Mansyur/ @hurufkecil)



Banyak dari kita suka bertanya, saat seseorang yang masih muda meninggal dunia, terlebih jika itu seseorang yang kita pernah mengenalnya, pernah bersinggungan dengannya; 

Mengapa ia pergi?

Sulit untuk tidak bergumam, meski hanya dalam hati, ia masih begitu muda..

Kalian yang pernah mengalami, pasti memahami. Rasanya bercampuraduk. Apakah itu kesedihan, kehilangan, keterkejutan, atau sebenarnya hanyalah tumpukan ketakutan.. Sebab ternyata kematian itu datang begitu saja, begitu tiba-tiba.

Seperti lebih mudah jika yang pergi seorang renta; yahhh, ia memang sudah tua dan pesakitan. Tapi, kenyataan bahwa yang pergi dari dunia adalah seorang yang masih belia, begitu muda, dalam puncak kejayaannya. Saat harapan-harapan, cita-cita, dan impian melekat pada dirinya. Di hadapannya ada jalan-jalan. Sayangnya, ia tak memiliki waktu.

Seorang yang mati muda, seperti seseorang yang datang di musim yang buruk dan pergi justru saat musim membaik. Ia tak menikmati apapun. Lebih mudah andai ia datang saat musim membaik, memeroleh segala kebaikan dari masa itu, lalu pergi saat musim memburuk. Seseorang mungkin akan tetap merasa kehilangan, tapi setidaknya tidak ada yang akan menyesalinya, sebab memang tak ada lagi yang layak diharapkan dari masa itu, dan pula orang-orang tahu ia telah mendapatkan sesuatu saat pergi.

Mungkin hal itulah yang ingin diungkapkan Rossetti melalui puisinya di atas. Ia memilih kata-kata yang manis, juga perumpamaan yang manis. Saya sangat menyukai bagaimana Rossetti mampu mengungkapkan perasaan yang dalam melalui puisi-puisinya. Sayangnya, saya pikir, terlalu banyak ratapan, seandainya ia menggunakan kemampuannya itu untuk mengungkapkan perasaan-perasaan yang lebih positif, seperti syukur misalnya.

Adakah yang tahu pasti musim terbaik bagi seseorang?

Tidak ada seorang pun yang tahu apa pastinya yang telah diperoleh seseorang dalam hidupnya, baik singkat ataupun lama usianya dalam pandangan kita; manusia.

Bagi orang-orang terdekat yang ditinggalkan, mengikhlaskannya pergi bukan hal mudah. Mengikhlaskan bisa dimulai dengan tidak mempertanyakan takdir Tuhan meski dalam hati, cukup dengan perkataan; Sesungguhnya kita milik Tuhan, dan hanya kepada-Nya kita kembali.

Bagi orang-orang di luar lingkaran terdalam, mungkin beberapa merasakan kehilangan, kedukaan, tapi mungkin juga hanya seperti yang dideskripsikan Truman Capote dalam In Cold Blood; suatu sensasi horor yang dangkal, yang diperdalam oleh ketakutan pribadi (hal. 108).

Yang muda pun tidak terlepas dari bayang-bayang kematian.

Jumat, 20 Desember 2019

Rainbow Connection - Terjemah Bebas

RAINBOW CONNECTION

performed by: Kermit the Frog (Jim Henson) from The Muppet Movie
written by: Paul Williams & Kenneth Ascher

Why are there so many
Songs about rainbows
And what's on the other side
Rainbows are visions
They're only illusions
And rainbows have nothing to hide
 
Mengapa ada begitu banyak
lagu tentang pelangi
Dan apa yang ada pada sisi lainnya?
Pelangi adalah penglihatan,
tetapi ia hanyalah ilusi
Dan tak ada yang perlu pelangi sembunyikan

So we've been told
and some chose to believe it
But I know they're wrong
wait and see

Jadi, kita telah diberitahu tentang hal itu
Dan beberapa orang memilih untuk mempercayainya
Tetapi aku tahu mereka salah
Tunggu dan lihatlah..

Someday we'll find it
The Rainbow Connection
The lovers, the dreamers and me

Suatu hari nanti kita akan menemukannya
Koneksi pelangi
Para pecinta, pemimpi, dan aku

Who said that every wish
Would be heard and answered
When wished on the morning star

Siapakah gerangan yang mengatakan bahwa setiap harapan
Akan didengar dan dijawab
Manakala diucapkan pada Bintang Pagi

Somebody thought of that
And someone believed it
And look what it's done so far
What's so amazing
That keeps us star gazing
What so we think we might see

Seseorang berpikir akan hal itu
Dan seseorang mempercayainya
Dan lihatlah apa yang telah dilakukannya sejauh ini
Betapa menakjubkan
Hal itu membuat kita terus memandangi bintang-bintang
Apa yang sangat kita pikir mungkin kita lihat

Someday we'll find it
That Rainbow Connection
The lovers the dreamers and me

Suatu hari nanti kita akan menemukanya
Koneksi pelangi
Para pecinta, pemimpi, dan aku

Have you been fast asleep
And have you heard voices,
I've heard them calling my name,
Is this the sweet sound that calls
The young sailors,
The voice might be one and the same.
I've heard it too many times to ignore it
It's something that i'm supposed to be,

Sudahkah kau tertidur pulas
Dan sudahkah kau mendengar suara-suara itu?
Aku telah mendengar suara-suara itu memanggil namaku
Inikah suara manis yang memanggil
Para pelaut muda?
Suaranya mungkin satu dan sama
Terlalu amat sering kudengar untuk kuabaikan begitu saja
Ini adalah sesuatu yang seharusnya menjadi diriku

Someday we'll find it
The rainbow connection...
The lovers, the dreamers and me

Suatu hari nanti kita akan menemukannya
Koneksi pelangi
Para pecinta, pemimpi, dan aku


Sekitar tahun 2013, aku mengisi sebuah form bersama teman-temanku. Di form tersebut ada kolom nama kelompok. Dan kami tidak pernah memberi nama kelompok pertemanan kami. Sore itu, di teras masjid sekolah kami, hujan deras mulai mereda. Kami berpikir, "Perlukah kita membuat nama?"

Saat masing-masing kami tengah berpikir, salah seorang teman bertanya lirih, "Apakah akan muncul pelangi?" dan seketika itu kami bersepakat menamai kelompok kami Kafilah Pelangi. Lalu masing-masing mulai menghubung-hubungkan nama tersebut dengan makna-makna filosofis. Satu-satunya yang muncul di kepalaku, "Kenapa ada begitu banyak hal tentang Pelangi? Ini membosankan, tapi yahh bagus juga."

Jadi, lupakan tentang kelompok pertemanan kami yang sedikit alay itu (sepertinya anak remaja memang haus identitas diri sehingga kami sampai merasa perlu membuat nama kelompok, yang herannya, masih kami pakai tiap reuni ><), pada detik itu, detik saat di kepalaku muncul pertanyaan, kenapa ada begitu banyak hal tentang pelangi, aku menyadari apa yang dirasakan penulis lagu Rainbow Connection.

Ada banyak tafsiran bagus tentang kata Pelangi, misalnya "Pelangi muncul setelah hujan, jadi bersabarlah..." semacam bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian. Ada juga makna lainnya, seperti "Perbedaan itu indah, seperti Pelangi", dan banyak perumpamaan lainnya. Tapi lintasan pikiran yang dituangkan dalam Rainbow Connection sedikit berbeda, "Pelangi kan cuma ilusi optik. Dia semu. Tak nyata." Kira-kira begitulah tafsiran kasarnya dan mungkin itu juga alasan mengapa ada istilah "bercita-citalah setinggi bintang di langit" bukannya "bercita-citalah seindah pelangi". Setidaknya bintang nyata, bukan seperti pelangi yang semu.

Aku tidak tahu kisah Kermit the Frog, jadi aku tidak tahu kenapa dia memainkan banjonya sambil menyenandungkan Rainbow Connection, tapi sepertinya ia tengah menghadapi keraguan orang-orang (kalau bisa disebut orang) atas apa yang ia yakini. Tapi, hebatnya Kermit, keraguan orang lain tidak menggoyahkan keyakinannya. Jadi, seseorang bisa menganggap pelangi sebagai ilusi, dan seseorang yang lain bisa menganggapnya sebagai fenomena yang indah. Pada akhirnya kita tidak bisa menghakimi pelangi. Kita berhak memilih jalan menurut apa yang masng-masing kita yakini. Kalau kita yakin, maka jalani dan buktikan, I know they wrong, wait and see..

Dan begitulah, maka bagian utama lagu tersebut, someday we'll find it, the rainbow connection the lovers the dreamers and me, hanya bermakna sebagaimana adanya.

Kermit melanjutkan dengan bertanya retoris, "Siapa sih yang bilang, kalau setiap permohonan yang dipanjatkan pada Bintang Pagi pasti akan dikabulkan?" Sebetulnya orang-orang tahu bahwa hal tersebut hanya takhayul. Bintang Pagi tidak memiliki kemampuan untuk mengabulkan apapun, tapi masih kata Kermit, "Tapi lihat, apa yang sudah diperbuatnya sejauh ini. Betapa menakjubkan. Di luar apapun, Morning Star telah memberi harapan. Seseorang perlu harapan untuk menjauhkannya dari ke-putus-asa-an.

Dan yahh, pada bagian ini, aku snagat-sangat menentangnya. Bisa dipastikan Kermit ini bukan berakidah Islam. Fitrah manusia adalah bergantung. Ia lemah dan membutuhkan kekuatan lain di luar dirinya, dan itu adalah Tuhan. Keyakinan dan ketaatan kepada Allah swt. Tidak ada yang lain. Berharap pada selainNya adalah dosa besar. Lagipula alangkah bodohnya, menyandarkan harapan pada sesuatu yang jelas-jelas tidak mampu brbuat sesuatu.

Tapi pada intinya, Kermit ingin mengatakan pada kita, bahwa keyakinan adalah awal dari keberhasilan. Karena kita Muslim, seharusnya keyakinan itu memiliki nama lain; Doa. keyakinan kita pada Allah, doa-doa yang kita panjatkan kepada-Nya, menjadi penguat ikhiyar-ikhtiyar kita. Mungkin atau tidak mungkin, bisa atau tidak bisa, berhasil atau gagal, adalah hal lain yang tidak akan lagi kita pusingkan, karena kita telah mengerahkan semua yang mampu kita upayakan.

Lalu berlanjut pada bait terakhir, sesuatu tentang Pelaut. Awalnya, aku juga bingung dengan lompatan mendadak ini, tapi kemudian aku menemukan salah satu artikel wawancara dengan entah Williams atau Ascher, penulis lagunya, salah satu dari mereka mengatakan bahwa ia memiliki hasrat terpendam tentang menjadi Pelaut. Semacam cita-cita semasa kanak-kanak. Jadi, ia memasukkannya ke sana, ke dalam lirik lagu. Ia membuat Kermit menjadi seseorang yang ingin menajdi Pelaut. Bahwa menjadi pelaut adalah panggilan sejatinya. Seseorang memiliki sesuatu dalam dirinya. Kadang kala sesuatu itu tependam, lalu kadang kala muncul ke permukaan, suara hati yang memanggil-manggil.

Bukankah lagu yang manis?

Kecuali tentang Morning Star.

Oh ya, aku tidak menyangka aku juga akan sampai pada situasi seperti Kermit, baca di sini.

Sabtu, 06 Juli 2019

Bagaimana Tepatnya Aku Melihat?



Sering kali, bahkan setiap kali, seorang Muslim berbicara di depan khalayak, ia membukanya dengan pujian kepada Allah atas segala nikmat-Nya, karunia-Nya, hidayah-Nya… dan aku bertanya-tanya, sesungguh apakah aku merasai nikmat, karunia, hidayah itu? Sesungguh apakah aku menghayati segala kebaikan yang Allah berikan padaku?

Sabtu, 05 Januari 2019

art is a lie... (2)

“We all know that art is not truth. Art is a lie that makes us realize truth, at least the truth that is given us to understand. The artist must know the manner whereby to convince others of the truthfulness of his lies.”
– Pablo Picasso

Di sekolah saya, untuk waktu yang cukup lama, hanya ada satu mata pelajaran seni, yaitu seni rupa. Dan untuk waktu yang lama pula, hanya ada satu guru yang mengampu pelajaran tersebut, ialah beliau Pak Guru yang “bergelar”. 

Awalnya, saya kira merupakan sebuah keberuntungan, tahun ketika saya memasuki SMA, seorang guru seni rupa baru datang. Beliau masih muda, dan jelas, idealisme metode pembelajaran seorang sarjana pendidikan masih melekat pada diri beliau. Beliau mengajar separuh kelas sepuluh (X.5-X.8), salah satunya adalah kelas saya, X.7, maka mimpi buruk pelajaran seni rupa bersama Sang Legenda dapat kami tunda...

Sayangnya, penangguhan waktu terkadang bisa menjadi sesuatu yang lebih buruk.

Dan kenaikan kelas pun datang…. Betapa menakjubkannya rencana Tuhan, beliau Sang Legenda menjadi wali kelas saya!

Tidak banyak yang dapat saya ingat dengan pertemuan-pertemuan awal selain rasa deg-deg-an, tegang, takut salah, setiap senin pagi. Seni rupa adalah mata pelajaran di mana kami belajar teori di kelas, mendapat tugas untuk dikerjakan di rumah, dan pekan selanjutnya, kami harus meletakkan tugas kami di atas meja, lalu beliau berkeliling, bertanya, dan berkomentar. Kadang beliau menghendaki kami mengajukan pertanyaan, semacam sesi konsultasi karya, tapi tidak jarang kami merasa salah ucap dan berakhir pada…yah, begitulah…

Hingga pada suatu senin, setelah menjelaskan teori tentang teknik plakat dan aquarel, balance, serta lighting, beliau mengajak kami keluar kelas dan memilih satu objek untuk kami buat sketsanya. Jika beliau acc, kami bisa melanjutkan dengan mewarnainya di rumah, menjadi lukisan yang sesungguhnya.

Saya memilih sebuah tanaman dalam pot yang pecah sebagai objek. Saya berusaha menerapkan teori yang beliau sampaikan di kelas. Dan pada senin berikutnya, saya datang dengan… 



Saya berdoa, beliau mengabaikan gambar saya dan terus berkeliling. Saya harap beliau akan berhenti di meja lain, tapi begitulah…beliau mengangkat buku gambar saya, menunjukkannya pada seisi kelas dan berkata,”Ini contoh teknik plakat yang saya sampaikan minggu lalu.”

Sungguh saya merasa lega dan berbangga mendapat "pujian" kecil tersebut.

"Hanya dan hanya pot-nya." lanjut beliau, mengakhiri segala kebanggaan saya.

art is a lie... (1)


“We all know that art is not truth. Art is a lie that makes us realize truth, at least the truth that is given us to understand. The artist must know the manner whereby to convince others of the truthfulness of his lies.”
– Pablo Picasso 

(Kita semua tahu bahwa seni bukanlah kebenaran. Seni adalah kebohongan yang menyadarkan kita akan kebenaran, setidaknya kebenaran yang memang dibuat supaya dapat kita mengerti. Seorang seniman harus mengetahui dengan jalan seperti apa ia mengungkapkan kepada orang lain kebenaran dari kebohongannya)



Hampir di semua sekolah, di semua jenjang pendidikan, ada satu—atau dua—guru yang mendapat gelar kehormatan “killer”. Beruntungnya, gelar itu tidak berarti sebagaimana harfiahnya, tapi hanya sebuah kata yang menggambarkan ketegasan—karena tidak sopan menyebutnya galak, atau karena mata pelajaran yang diampunya terlalu sulit sehingga beliau dinilai “guru yang tidak mudah”. 

Coba flashback dan temukan kembali sosok tersebut… 

Tidak ada? 

Mungkin masa sekolah Anda kurang seru, hehe 

Coba ingat-ingat lagi…mungkin beliau adalah wali kelas III saat SD, atau guru mata pelajaran Biologi saat SMP, atau…The Legend and the Only One guru Seni Rupa SMA?

Ketika Bapak saya membuatkan sketsa berbagai objek dengan sangat baik, Ibu saya menggambar rumah yang seperti akan roboh, kerbau yang seperti bebek, dan ayam yang seperti telur. Dari sanalah ibu saya bercerita tentang sulitnya mata pelajaran seni rupa semasa SMA. Beliau bersama kawan sekelasnya harus duduk di depan gerbang sekolah, lalu melukis apa yang mereka lihat di hadapan mereka.

Saat itulah sketsa kerbau pertama ibu saya dibuat, bersama hamparan sawah musim tanam sebagai latarnya, dan….lukisan itu tak pernah selesai, apalagi dinilai. Seorang kawan berbaik hati membantu dalam tugas tersebut,  menyelamatkannya dari Kaidah No. 1 melukis yang sering disampaikan guru seni rupanya, “Tidak ada lukisan yang salah…cuma jelek.”

Belasan tahun kemudian, guru seni rupa ibu saya menjadi guru seni rupa kakak saya, dan empat tahun setelah kakak saya, beliau menjadi guru seni rupa saya juga…What a beautiful life.

Sabtu, 01 Desember 2018

Hourglass



The phone was ringing,
and I could hear your voice saying,

“Girl, your dad will go fishing with his friends next week.

They asked him yesterday, ‘Will your little daughter join us? Just like before — she was good at fishing.’

Your dad laughed and said, ‘I don’t have a little daughter anymore.’

It was years ago, Girl. It seems like old people, like me, are trapped in the past. We struggle to erase beautiful old memories, yet easily forget what we just did. I think it’s because we know time is flying, so we refuse to simply let it go.

So your dad told them, ‘My girl hasn’t gone fishing since the last time we did. She’s studying now, miles away.’”

“I’m 22 now,” I said.
“Sure, you’re 22, Girl.”

And then, silence…

“Mom, I keep remembering the time when Piyokta sat on the back of my bicycle, holding my red-and-white uniform tightly. Those days — when she was only a first grader. It was the dry season. I can still feel the warmth of her hands, the smell of her baby powder, and the fog passing across our faces. She’s taller than me now. It’s a little funny.”

My mother said, “I still remember the mornings when I had to cook early, angrily telling you all to eat breakfast. But the three of you always said, ‘We’re going to be late!’ That wasn’t my fault — you three should’ve woken up earlier. Still, I happily watched you go to school: Piyokta in her red-and-white uniform, you in your white-and-navy blue, and your older sister in her white-and-gray. The three of you rode your bicycles to school together.”

“I’m 22 now…”



Rabu, 03 Oktober 2018

Hutan Pinus: Kenangan seorang Anak dan Ayah


PINE FOREST
by Gabriela Mistral
(Children Winner of Nobel Prize For Poetry)

Let us go now into the forest.
Trees will pass by your face,
and I will stop and offer you to them,
but they cannot bend down.
The night watches over its creatures,
except for the pine trees that never change:
the old wounded springs that spring
blessed gum, eternal afternoons.
If they could, the trees would lift you
and carry you from valley to valley,
and you would pass from arm to arm,
a child running
from father to father.



Selasa, 02 Oktober 2018

The Molecule of Life


Indeed, in the creation of the heavens and earth, and the alternation of the night and the day, and the [great] ships which sail through the sea with that which benefits people, and what Allah has sent down from the heavens of rain, giving life thereby to the earth after its lifelessness and dispersing therein every [kind of] moving creature, and [His] directing of the winds and the clouds controlled between the heaven and the earth are signs for a people who use reason. (QS. Al Baqarah: 164)

Senin, 01 Oktober 2018

The Starry Night




And it is He who placed for you the stars that you may be guided by them through the darknesses of the land and sea. We have detailed the signs for a people who know. (QS. Al An'am:97).

Minggu, 30 September 2018

Song for A Friend - Terjemah Bebas


Song for A Friend
performed by Jason Mraz

Well you're magic he said
“Kau hebat”, katanya
But don't let it all go to your head
Tapi jangan biarkan pikiran-pikiran itu merasuki kepalamu
'Cause I bet if you all had it all figured out
Karena aku berani bertaruh kalau kalian juga memiliki kehebatan itu, cobalah mencari tahu
Then you'd never get out of bed
Dengan begitu kau tidak akan pernah mengawali hari dengan buruk
Well, no doubt
Tak ada keraguan
Of all the thing's that I've read what he wrote me
Akan semua hal yang sudah kubaca mengenai apa yang ia tulis tentangku
It's now sounding like the man I was hoping
kedengarannya seperti sosok lelaki yang memang aku berharap
To be
Diriku bisa menjadi seperti itu
I keep on keeping it real
Aku berusaha menjaga agar hal itu benar adanya
'Cause it keeps getting easier he'll see
Karena hal itu semakin lebih mudah, ia akan mengerti
He's the reason that I'm laughing
Dialah alasan aku tertawa
Even if there's no one else
Bahkan jika sedang tidak ada orang
He said, you've got to love yourself
Dia bilang, "Kau pasti  mencintai dirimu ”

You say, you shouldn't mumble when you speak
Kau bilang, “Kau tidak seharusnya bergumam sambil mengomel (baca: dermimil, haha) saat berbicara
But keep your tongue up in your cheek
Tapi jagalah perkataanmu
And if you stumble on to something better
Dan jika kau tersandung sesuatu, lebih baik
Remember that it's humble that you seek
Ingatlah bahwa rendah hatilah yang kau cari
You got all the skill you need
Kau memeroleh semua skill yang kau butuhkan
Individuality
Kepribadian
You got something
Kau mendapat sesuatu
They call it gumption
Mereka menyebutnya kecerdasan
They call it anything you want
Mereka menyebutnya apapun yang kau inginkan

Because when you play the fool now
Karena ketika kau sekarang berlagak bodoh
You're only fooling everyone else
Kau hanya sedang membodohi orang lain
You're learning to love yourself
Kau tengah belajar mencintai dirimu sendiri
And there's no price to pay, no, no
Dan tak ada harga yang perlu dibayar
When you're givin' what you take
Ketika kau memberi dan apapunyang kau ambil
That's why it's easy to thank you
Itulah mengapa mudah berterimakasih

Let's say you take a break from our day
Katakanlah, kau beristirahat sejenak dari hari kita
And gettin' back to the old garage
Dan kembali ke bengkel tua
Because life's too short anyway
Karena bagaimanapun hidup memang terlalu singkat
But at least it's better then average
Tapi setidaknya hidup ini lebih baik dari rata-rata orang lain
As long as you got me
Selama kau bersamaku
And I got yo, you know we'll got a lot to go around
Dan aku bersamamu, kau tau kita akan mendapat banyak hal untuk berkelana
I'll be your friend, your other brother
Aku akan menjadi temanmu, saudaramu yang lain
Another love to come and comfort you
Cinta lain yang datang dan membuatmu merasa nyaman

And I'll keep reminding
Dan aku akan tetap mengenang
If it's the only thing I ever do
Jika hal itu satu-satunya yang dapat kulakukan
I will always love you
Aku akan selalu mencintaimu

Climb up over the top
Mendakilah hingga puncak
Survey the state of the soul
Surveylah negara jiwa
You've got to find out for yourself whether or not you're truly trying
Kau telah mengenali dirimu sendiri baik kau sungguh-sungguh mencoba ataupun tidak
Why not give it a shot?
Kenapa tidak mencobanya?
Shake it, take control, inevitably wind up
Bebaskan, ambil kendali, mau tak mau kau harus menyelesaikannya
Find out for yourself all the strengths you have inside still rising
Kenali dirimu, semua kekuatan dalam dirimu masih sedang terbit
And find out for yourself all the strengths that you have inside of you
Dan kenali dirimu, semua kekuatan yang ada di dalam dirimu

Senin, 27 November 2017

Juni Ke-20

Kadang aku berpikir ia terlalu memengaruhi diriku dan betapa menyebalkannya hal itu. Tapi di saat seperti sekarang, aku memerlukannya, maka lagi-lagi aku mengikuti cara berpikirnya, maka lagi-lagi aku menentukan sikap setelah mendengarkannya. Hal yang sama yang telah terjadi selama bertahun-tahun kehidupanku.

Jumat, 08 September 2017

Katarsis, Kontemplasi, dan Ahlullah

Pada bulan Syawal tahun lalu, seorang sahabat lama berkunjung ke rumah. Hari mulai petang ketika aku menyadari aku mendengarkan ia sedari tadi. Usai shalat maghrib, ia pamit pulang, tetapi di halaman, sempat ia berkata, "Katarsis. Aku mungkin hanya sedang berkatarsis. Kamu tidak keberatan kan?"


Senin, 16 Januari 2017

Tonight, in My Mind

Saya dulu (dulu itu berarti sebelum kuliah), punya cukup waktu tiap malam untuk sendirian, atau kalau pas adek numpang tidur di kamar saya, dia udah tidur. Biasanya sebelum baca doa tidur, masih sempet mikir-mikir ngapain aja seharian, tadi saya dijahatin siapa aja, njahatin siapa aja, masih sempet dear diary gitu deh. Yah, minimal setahun satu buku agenda yang tebel abis lah...


Jumat, 06 Januari 2017

Kalau Kau Tua

WHEN YOU ARE OLD

by William Butler Yeats (1865-1939)

When you are old and grey and full of sleep, 
And nodding by the fire, take down this book, 
And slowly read, and dream of the soft look 
Your eyes had once, and of their shadows deep; 

How many loved your moments of glad grace, 
And loved your beauty with love false or true, 
But one man loved the pilgrim soul in you, 
And loved the sorrows of your changing face; 

And bending down beside the glowing bars, 
Murmur, a little sadly, how Love fled 
And paced upon the mountains overhead 
And hid his face amid a crowd of stars.


Ada alasan tak bertanggungjawab mengapa saya menyukai puisi, ialah karena tak ada konsekuensi apapun setelah membaca dan menafsirinya. Sebenarnya hal ini tidak hanya berlaku untuk puisi, tapi juga karya sastra lainnya. Apakah seseorang menjadi lebih bijaksana setelah selesai membaca novel?

Bisa jadi.

Bisa juga tidak.

Puisi pun demikian.

Karya sastra tidak lain adalah hasil pemikiran manusia. Maka seperti apa pribadi penulisnya, apa nilai-nilai yang dianutnya, seperti itu pulalah kebanyakan muatan tulisannya. Jika Anda menyukainya, Anda bisa mengambilnya sebagai pelajaran. Jika tidak, Anda hanya perlu menyingkirkannya dari hadapan Anda.

Jikapun ada pelajaran, ada hikmah, ada kebijaksanaan umum yang terkandung di dalam suatu karya sastra, kita masih bisa memilih, untuk sekadar menyimpannya sebagai kata mutiara, atau mengambilnya sebagai pengajaran dalam hidup.

(Hal ini berbeda dengan Al Quran dan Hadits, jangan coba-coba menafsiri sesuka hati, dan jangan coba mengambil hukum atas dasar keduanya secara sepotong-sepotong, tanpa melihat bagian sebelum atau sesudahnya. Pula, dalam hal membaca dan mempelajari keduanya, tidak ada pilihan bagi seorang Muslim yang baik, kecuali berusaha mengamalkannya sebaik mungkin. Inilah maksud saya bilang alasan tak bertanggungjawab dalam menyukai puisi).

Tentang menafsiri puisi sesuka hati. Saya yakin, setiap puisi memiliki satu makna yang ingin disampaikan oleh penulisnya. Tapi saya sebagai pembacanya, bisa jadi akan menangkap makna tersebut atau bisa juga tidak, malah kadang memikirkan makna yang lain, tergantung latar belakang saya. Karena itu saya memutuskan untuk menafsiri puisi sesuka saya...

Seperti puisi W. B, Yeast di awal tulisan, When You are Old, entah bagaimana, ketika dulu saya pertama kali membacanya, saya merasa bahwa one man loved the pilgrim soul in you/ And loved the sorrows of your changing face adalah orangtua kita. Mungkin saja, itu karena saya sedang kangen rumah ketika itu. Meskipun tidak tepat, tapi tidak ada dosa kan menafsiri puisi sepotong-sepotong tanpa melihat kesudahan ataupun larik sebelumnya?

Dream of the soft look , Your eyes had once, and of their shadows deep,
Bayangkan tatapan lembut yang dahulu milik matamu juga, yang berlekuk begitu dalam

Saat itu saya hanya berpikir, mata saya terlihat seperti mata ayah saya. Jika ada tatatpan lembut yang harus saya kenang, itu adalah tatapan kasih kedua orangtua saya.

Saya pikir, jika nanti saya mencapai masa tua, saya harus tetap mengenang kedua orangtua saya dengan baik, cinta kasih tulus mereka, lelah yang mereka tanggung untuk kita, their shadows deep, dan penerimaan tanpa penolakan akan diri kita apa adanya, yang tidak hanya loved your moments of glad grace.

Jika nanti Tuhan mengizinkan kita mencapai usia tua, dan orang-orang tak lagi mengagumi segala keindahan yang ada pada diri kita di masa muda, Murmur, a little sadly, how Love fled/ And paced upon the mountains overhead/And hid his face amid a crowd of stars.

Mungkin puisi itu ingin menyampaikan, bahwa apa yang ada pada diri kita saat ini, seringkali tidaklah hakiki. Kita mungkin menerima banyak cinta saat ini, entah itu cinta palsu ataupun sejati....


Kalau Kau Tua


kalau kau tua, lusuh, dan pengantuk
terkantuk-kantuk di samping perapian, ambil buku ini
baca pelan-pelan dan khayalkan sebuah tatapan lembut
yang dahulu milik matamu juga, yang berlekuk begitu dalam

berapa banyak yang pernah mengagumi saat-saat ceriamu
dan mencintai kemolekanmu dengan genggam cinta murni atau palsu
namun bagi putih jiwamu hanya seorang yang mencintai
hingga ujung duka derita di wajahmu yang tak muda lagi

sambil membungkuk di samping api membara
gumamkan sedikit sedih, bagaimana cinta pun terbang
dan melayang di atas gunung tinggi jauh di sana
dan menyembunyikan mukanya di antara rimbun bintang

Sabtu, 17 September 2016


Rabu, 17 Agustus 2016

Menilai Manusia

Banyak orang menulis. Apa saja. Yang bisa ditulis. Kadang mereka mengkhususkan diri menulis hal-hal tertentu. Banyak juga yang hanya menuliskan keresahan hatinya sendiri.

Mengenali orang, katanya, bisa lewat tulisannya. Saya sepakat. Pemikiran seseorang, bisa dilihat lewat apa yang ia tulis. Saya sepakat lagi. Apa yang sering ia tulis, itulah yang banyak ia pikirkan, maka pada usia yang sama ada orang yang memikirkan kemaslahatan orang banyak, ada yang berkutat berputar-putar pada dirinya sendiri. Lagi, saya sepakat, pada sebagiannya.